Kisah Orang Alim Dan Pelacur

معصية مع الذل واحتقار خيرمن الطاعة مع العز واستكبار

“Maksiat yang disertai rasa hina-dina (merasa sangat berdosa) yaitu lebih mulia dibanding melaksanakan ketaatan yang disertai rasa gembira dan kesombongan.” (Dinukil dari kitab Al-Hikam)

Dikisahkan, ada seorang alim yang bertetangga dengan seorang pelacur. Setiap kali orang alim ini memandang rumah sang pelacur, dalam pikirannya sering terbayang, “Pelacur itu pasti selalu melaksanakan perbuatan mesum”. Prasangka jelek itu selalu terlintas dibenaknya setiap kali beliau teringat akan si pelacur tersebut. Prasangka itu sudah merasuk ke dalam jiwanya, sehingga beliau sangat membenci dan jijik dengan pelacur tersebut. Ingin rasanya beliau mengusir si pelacur dari samping rumahnya, namun beliau sangat dikenal orang-orang sebagai orang yang bijak dan adil dalam mengambil keputusan. Sehingga keputusan untuk mengusir dari samping rumahnya itu dibatalkan, alasannya yaitu takut dinilai masyarakat bahwa beliau tidak bijak dalam memutuskan.

Namun sebaliknya, bila si pelacur melihat rumah orang alim tadi, hatinya selalu bergejolak dan bergetar. Penyesalan dan tangisan yang mendalam selalu tersimpan dalam hatinya. Batinnya selalu berdoa: “Betapa Mulianya Engkau, Ya Allah, mempunyai hamba yang alim dan bijaksana ibarat tetanggaku ini, sementara saya bergelimang dengan lumuran dosa. Dia menjadi orang yang disegani dan dihormati oleh masyarakat. Banyak orang dari banyak sekali pelosok berkunjung ke rumahnya, menimba ilmu serta memohon doa restu darinya. Ya Allah, saya sangat ingin ibarat dirinya, hidup terhormat, disegani dan jauh dari dosa serta perbuatan maksiat. Ya Allah, tunjukkan saya pada jalan-Mu yang benar, mudahkanlah keinginanku ini, dan janganlah Engkau biarkan saya dalam keadaaan tersesat ibarat ini.” Demikianlah, batin si pelacur selalu berbisik kepada Allah.

Setiap hari bila si pelacur ini melihat rumah tetangganya, beliau selalu berdoa dan selalu berpikiran baik untuk dirinya. Dia sangat kagum, takjub, bahagia dan gembira terhadap sikap orang yang alim tadi. Namun, prasangka orang yang alim tadi justru sebaliknya, beliau semakin geram dan benci saja dengan tetangganya tersebut.

Singkat cerita, tibalah hari pembalasan. Orang alim tersebut diseret oleh malaikat ke pintu neraka. Dia protes, “Kalian pasti salah, coba buka kembali catatan amal dan ibadahku selama ini.” Malaikat pun membuka dan membacakannya, “Betul sekali engkau tercatat sebagai seorang yang saleh dan alim. Buku ini penuh dengan rekaman amal dan kebajikanmu. Tetapi satu hal yang membuat Allah marah dan tidak ridha denganmu, engkau selalu melihat orang lain dengan prasangka burukmu. Contoh nyatanya, seorang pelacur tetanggamu, selalu kamu lihat dengan penuh kebencian dan tanpa belas kasihan sedikit pun. Lupakah engkau bahwa Allah membuat nirwana dan neraka untuk hamba-Nya. Dia yang lebih berhak memilih hamba-Nya ditempatkan pada nirwana atau neraka”.

Sementara, di sisi lain si pelacur tadi justru diantarkan malaikat menuju pintu surga. Dia pun protes ibarat halnya seorang yang alim tadi, “Apakah kalian tidak salah dalam membaca catatan amal ibadahku ?, tampaknya saya tidak sempurna di tempatkan di surga. Bukankah saya lebih banyak berbuat dosa dan maksiat selama di dunia?”. Lalu malaikat menjawab, “Ada satu hal kecil yang nampaknya sepele tetapi sering diabaikan manusia, justru itu yang membuat Allah ridha dengan sikap hamba-Nya. Engkau selalu menaruh cita-cita yang baik kepada Allah dan selalu Husnudhan (baik sangka) terhadap sesama manusia. Ketahuilah, Allah membuat nirwana dan neraka untuk hamba-Nya yang terpilih. Dialah yang lebih berhak untuk menentukannya”.



Kisah sufi diatas menginspirasikan kita sebagai hamba yang hina, perlunya selalu berpikir dan mempunyai cita-cita yang baik kepada Allah. Sebagaimana pesan Allah dalam Al-Qur’an: “Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.” dan pesan Allah dalam hadits qudsi:  “Aku terserah pada prasangka hamba-Ku terhadap-Ku”. Maksudnya, bila kita mempunyai pengharapan yang baik kepada Allah, pasti Allah akan memperlihatkan cita-cita yang baik pula kepada kita begitu juga sebaliknya.


Wallahu A’lam


Sumber : Disadur oleh Ust. Munawar dari kitab Al-Hikam

Related Posts

0 komentar:

Post a Comment