Showing posts with label artikel pilihan. Show all posts
Showing posts with label artikel pilihan. Show all posts

Tiga Alasannya Yaitu Ilmu Tidak Akan Bermanfaat

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih ia berkata, “Salah seorang ulama Bani Israil mengumpulkan 70 peti buku ilmu pengetahuan. Masing-masing peti berukuran 70 hasta. Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada nabi pada zaman itu semoga ia memberikan kepada ulama itu, “Ilmu  itu tidak bermanfaat bagimu, walaupun mengumpulkan buku berlipat-ganda selama kau mempunyai tiga perkara: cinta dunia, berkawan dengan setan, dan menyakiti orang Muslim.” Ini alasannya yaitu Fir’aun pun mengetahui kenabian Musa. Namun, pengetahuannya itu terhalang oleh cinta dunia dan kekuasaan, sehingga ia tidak mengikuti Musa dan ilmunya pun tidak bermanfaat. Demikian pula ilmu iblis wacana Adam as. dan ilmu orang Yahudi wacana  Nabi saw. Mereka tidak akan meraih kebahagiaan hanya dengan sekadar ilmu dan tidak akan menemukan hasil yang baik. Andaikan mereka mengamalkan apa yang mereka nasihatkan, pasti mereka selamat.



Wallahu A’lam


Perbedaan Nafsu Dan Akal

Maka seorang Mukmin hendaknya menjauhi kezaliman dan kemaksiatan, serta memperbaiki kekurangan dengan istighfar dan penyesalan, kemudian menyibukkan diri dengan ketauhidan dan dzikir. Sungguh, perjalanan itu sangat jauh, panas neraka sangat hebat, airnya berupa besi cair mendidih dan nanah, dan belenggunya berupa besi. Dalam Hadits diterangkan, “Penghuni neraka yang paling ringan azabnya ialah orang yang mengenakan sandal dari api, kemudian otaknya bergolak alasannya demikian panasnya sandal tersebut.”

Malik bin Dinar berkata: Aku melihat seorang anak. Aku berkata kepada nafsuku, “Hai nafsu, Nabi saw. saja memberi salam, baik kepada belum dewasa  maupun orang dewasa.” Maka saya memberi salam. 

Anak itu menjawab, “Wa’alaikas salam warahmatullah, wahai Malik.”

“Apa bedanya antara nafsu dan akal?” tanyaku.

Dia menjawab, “Nafsumu ialah yang melarangmu memberi salam, sedang akalmu yakni yang mendorong untuk memperlihatkan salam.”



“Mengapa kau bermain tanah?” tanya Malik

Anak itu menjawab, “Karena kami diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah.”

“Mengapa engkau terlihat menangis dan tertawa?” 

“Aku menangis tatkala teringat akan azab Tuhanku dan saya tertawa bila teringat akan rahmat-Nya.” jawab anak itu

“Hai anakku, dosa apakah gerangan yang telah dilakukan sehingga kau menangis, padahal kau belum lagi sebagai orang mukallaf?.” Malik bertanya

“Jangan berkata begitu, alasannya  aku melihat ibuku bahwa ia tidak menyalakan kayu yang besar kecuali dengan kayu yang kecil  terlebih dahulu.” Jelas anak itu

Hendaklah Anda mengambil pelajaran dari cerita di atas.


Wallahu A’lam

Keutamaan Membaca “Insya Allah”

“Dan jangan sekali-kali kau menyampaikan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya saya akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu kalau kau lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih bersahabat kebenarannya daripada ini”. (QS. Al-Kahfi : 23 – 24)

As-Samarqandi menegaskan dalam kitab “Bahrul Ulum”: Yang jelas, ayat itu bermakna, kalau kau lupa akan sesuatu, ingatlah Tuhanmu. Mengingat Tuhan tatkala lupa akan sesuatu ialah dengan mengatakan, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada sesuatu yang lain sebagai pengganti dari yang terlupakan itu; yaitu sesuatu yang lebih lurus dan lebih mendekatkan pada kebaikan dan kegunaan.”

Al-Imam menegaskan dalam Tafsirnya: Alasan mengapa mesti mengucapkan ungkapan itu ialah bahwa apabila insan berkata, “Aku akan mengerjakan anu esok untuk Fulan,” maka mungkin saja dia meninggal sebelum hari esok tiba. Kalaupun dia masih hidup, mungkin saya ada halangan yang membuatnya tidak sanggup melaksanakan hal itu. Jika tidak menyampaikan “insya Allah”, berarti dia dusta dalam menjanjikan sesuatu, sedangkan dusta mesti dijauhi dan itu tidak pantas dilakukan para nabi. Karena itu, dia wajib menyampaikan “insya Allah”. Kalaulah dia ditakdirkan tidak sanggup memenuhi apa yang dijanjikannya, dia tidak disebut pendusta selama dia tidak benar-benar mengingkarinya. 

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa dia bersabda, “Sulaiman bin Dawud as. berkata, ‘Sungguh, pada malam ini saya akan menggilir keseratus istriku, kemudian setiap istri akan melahirkan seorang anak yang akan berjuang di jalan Allah.’ Dia lupa untuk menyampaikan “Insya Allah”, sehingga tidak ada seorang pun di antara istrinya yang melahirkan kecuali seorang anak wanita yang berpenampilan  laki-laki.” Nabi saw. melanjutkan, “Demi zat Yang Menguasai diriku, kalau dia menyampaikan insya Allah, pasti dia beroleh anak laki-laki” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kitab “Raudlatul Khathib” dikatakan: Seseorang ditanya, “Mau kemana?” Dia menjawab, “Ke pasar untuk membeli keledai.” Dikatakan, “Katakanlah ‘Insya Allah’.”. Dia menjawab, “Aku tidak memerlukan ungkapan itu, alasannya yaitu dirham berada dalam saku dan keledai berada di pasar.” Ternyata, belum lagi datang di pasar, uangnya dicuri orang dari sakunya. Dia pun kembali. Kemudian seseorang bertanya, “Dari mana?” Dia menjawab, “Dari pasar, insya Allah. Dirhamku dicuri orang, Insya Allah.”

Ketahuilah, Ibnu Abbas ra. membolehkan pengecualian (mengucapkan “Insya Allah”) ibarat dikemukakan ayat diatas. Namun, para fuqaha beropini sebaliknya, alasannya yaitu kalaulah dibolehkan, pasti sebuah pengukuhan takkan tercapai. Maka tidak ada talak, tidak ada kemerdekaan budak, dan tidak diketahui apakah informasi perihal perbuatan yang akan dilakukan itu benar atau bohong.

Al-Qurthubi menafsirkan ayat diatas:  Ayat ini berkaitan dengan pembebasan diri dan evakuasi diri dari dosa. Adapun pengecualian yang mengubah aturan yaitu yang  diucapkan menyatu dengan pernyataan.



Dalam kitab “Manaqibul Imam al-A’zham” dikatakan: Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Ishak, penyusun kitab “al-Maghazi”, iri kepada Abu Hanifah lantaran dia melihat Khalifah al-Manshur memperlakukannya dengan istimewa dibanding ulama lainnya. Ketika duduk bersahabat Amirul Mukminin Abu Ja’far al-Manshur, Muhammad bin Ishak berkata kepada Abu Hanifah, “Bagaimana pendapat Anda perihal orang yang bersumpah kemudian diam. Setelah usang  mengucapkan sumpahnya, dia melontarkan Insya Allah.” Abu Hanifah menjawab, “Ucapan ‘Insya Allah’ itu tidak berlaku, alasannya yaitu terjadi jeda panjang. ‘Insya Allah’ itu hanya berlaku kalau dituturkan menyatu dengan pernyataan.” Muhammad bin Ishak berkata, “Bagaimana mungkin tidak berlaku, padahal kakek Amirul Mukminin, yaitu Abdullah bin Abbas, beropini bahwa ‘Insya Allah’ itu tetap berlaku walaupun sesudah satu tahun lantaran menurut firman Allah, “Dan ingatlah kepada Tuhanmu, kalau kau lupa?”. Amirul Mukminin berkata, “Demikiankah pendapat kakekku?” Muhammad bin Ishak mengiyakannya. Al-Manshur berkata kepada Abu Hanifah, “Hai Abu Hanifah, mengapa engkau menyalahi pendapat kakekku?” Abu Hanifah menjawab, “Karena Ibnu Abbas juga beropini bahwa takwil itu membatalkan kesahihan.” 
Kemudian Abu Hanifah berkata kepada Amirul Mukminin, “Sebenarnya orang ini (Muhammad bin Ishak) dan teman-temannya berpandangan bahwa engkau tidak layak menjadi khalifah, alasannya yaitu sesudah mereka membai’atmu, kemudian mereka keluar sambil melontarkan ‘Insya Allah’, sehingga mereka membatalkan bai’at terhadapmu, tetapi di pundaknya tidak ada beban pembatalan.”

Maka Amirul Mukminin berkata kepada pengawalnya, “Tangkaplah orang ini.” Mereka pun menangkap Muhammad bin Ishak dan memenjarakannya.


Wallahu A’lam

Cara Menjernihkan Hati

Ibrahim al-Khawash berkata: “Ada lima cara menjernihkan hati  dan mengobatinya, yaitu; membaca Al-Qur`an dengan merenungkannya, mengosongkan perut, shalat malam, merendahkan diri kepada Allah ketika dini hari, dan bergaul dengan orang-orang shaleh. Jika beliau tetap sibuk dengan urusan pemenuhan syahwat dan keinginannya, sehingga beliau melalaikan  kelima cara ini, beliau tetap mengidap penyakit ruhani, dan beliau tidak akan menemukan jalan keluar bagi dirinya kecuali azab dan kebinasaan. Wahai orang yang berperilaku buruk, tiada daerah kembali kecuali kepada Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin Anda kembali kepada-Nya dengan puisi-puisi yang Anda ciptakan sendiri atau diciptakan orang lain sebagai jago nafsu dan syahwat, alih-alih memakai Al-Qur`an yang dibawa Nabi saw., yang diperintahkan agar diamalkan? Apa jawabanmu pada ketika kaum muqarrabin saja berlutut dalam menghadapi kengerian kiamat? 



Wallahu A’lam

Hewan-Hewan Yang Masuk Surga

Diriwayatkan bahwa anjing (Ashabul Kahfi) itu masuk nirwana bersama kaum Mukminin. Hal ini ibarat ditegaskan Muqatil: Ada sepuluh hewan yang masuk surga, yaitu unta Nabi Shaleh, sapi muda Nabi Ibrahim, kibasy (domba) Nabi Ismail, sapi betina Nabi Musa, ikan paus Nabi Yunus, keledai Nabi Uzair, semut Nabi Sulaiman, Hudhud Ratu Balqis, anjing Ashabul Kahfi (penghuni gua), dan unta Nabi Muhammad saw. Semuanya masuk surga. Demikianlah dikemukakan dalam kitab “Misykatul Anwar”.

Dalam kitab “Hayatul Hayawan” ditegaskan: Mayoritas andal tafsir menegaskan bahwa anjing Ashabul Kahfi merupakan jenis anjing biasa. Diriwayatkan dari Ibnu Juraij bahwa beliau berkata, “Anjing itu sejenis singa.” Singa disebut anjing alasannya yaitu Nabi saw. mendoakan jelek kepada Utbah bin Abu Lahab, “Kiranya Allah mengutus salah satu anjing-Nya untuk mencelakakannya.” Ternyata, Utbah dimakan singa. 

Anjing ada dua jenis: anjing lokal dan anjing saluqi, sejenis anjing yang berasal dari Saluq, sebuah kota di Yaman. Anjing-anjing yang berasal dari sana disebut anjing Saluqiah. Di sana terdapat anjing-anjing yang tinggi dan suka dipakai untuk berburu.



Dalam ktab “Balaghatuz Zamakhsyari” dikatakan: Istilah “Suqiyah” dan “Kalb” sama saja. Anjing disebut “suqiyah” alasannya yaitu perilakunya yang jelek dan perbuatannya yang hina. Dan kedua jenis ini sama, yaitu tabiatnya sama. 

Ibnu Abbas berkata, “Anjing yang jujur lebih baik daripada sahabat yang berkhianat.” 

Harits bin Sha’sha’ah mempunyai beberapa sahabat akrab. Dia sangat menyayangi mereka. Pada suatu ketika beliau pergi bersama para sahabatnya untuk berwisata, tetapi ada salah seorang temannya yang  tidak ikut. Maka beliau menemui istrinya. Keduanya makan dan minum, kemudian tidur. Tiba-tiba anjing Sha’sha’ah menyerangnya dan membunuh keduanya. Ketika al-Harits pulang dan keduanya telah menjadi mayat, tahulah apa yang telah terjadi. Kemudian al-Harits bersenandung,

Ia senantiasa memelihara dan melindungi hartaku
Ia menjaga istriku, tetapi sahabatku berkhianat
Alangkah mengherankan sahabat yang menghalalkan istriku
Alangkah menakjubkan bagaimana anjing menjagaku

Dalam kitab “Aja`ibul Makhluqat” dikatakan: “Seseorang membunuh orang lain di Isfahan, kemudian beliau melemparkan mayatnya ke sumur. Sang korban mempunyai anjing dan beliau melihat kejadian itu. Setiap hari anjing itu mendatangi bibir sumur, mengais-ais tanah dan menawarkan isyarat. Jika si pembunuh melihat, beliau menggonggong. Setelah hal itu terjadi berulang-ulang, orang-orang menggali sumur dan korban pun ditemukan. Kemudian mereka menangkap si pembunuh dan beliau mengakuinya.”


Wallahu A’lam

Bahaya Riya (Pamer)

“…Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi : 110)

Janganlah melaksanakan syirik jalli dan syirik khafi dalam beribadah kepada-Nya ibarat yang dilakukan orang yang riya. Ibnu Abbas berkata: “Amal riya ialah yang dilakukan dengan pamrih dari insan dan bertujuan agar dipuji.”

Diriwayatkan dari al-Hasan: Ayat diatas berkenaan dengan orang yang berbuat syirik dalam beramal, yaitu ditujukan untuk Allah dan manusia. Hal ini didasarkan atas keterangan dari Jundub bin Zuhair. Dia berkata kepada Rasulullah saw., “Aku mengerjakan amal untuk Allah. Namun, kalau seseorang melihat amalku, saya pun senang.” Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak mendapatkan kecuali amal yang murni untuk-Nya.” Maka diturunkanlah ayat diatas sebagai pembenaran atas sabda Nabi saw.

Amal ini tergantung niat. Jika terlihatnya amal menjadikan rasa bahagia agar sanggup diikuti yang lain ibarat yang dilakukan kaum mukhlishin yang berpaling dari kasus selain Allah, maka tidak apa-apa. Namun, kalau amal itu dimaksudkan semata-mata untuk mendapatkan kebanggaan manusia, meraih popularitas, dan menerima nama baik, maka amal itu merupakan riya` dan syirik semata. Orang demikian perlu melakukannya secara sembunyi guna memelihara rusaknya amal. 



Diriwayatkan dari Abdullah bin Ghalib bahwa apabila pagi tiba, beliau berkata, “Kemarin Allah menganugerahiku dengan kebaikan. Aku membaca anu dan mendirikan shalat anu.” Jika dikatakan kepadanya, “Hai Abu Firas, pantaskah orang sepertimu berkata demikian?” Dia menjawab, “Karena Allah Ta’ala berfirman, Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kau menyebut-nyebutnya. (QS. Adh-Dhuha :11) Apakah kalian melarangku menyebut-nyebut nikmat Allah?.”

Hal ibarat itu sanggup dilakukan kalau dimaksudkan untuk mengingat nikmat-Nya, agar diikuti orang lain, dan beliau sanggup menghindari fitnah. Namun, yang terbaik ialah melaksanakan amal secara sembunyi-sembunyi. Jika aspek-aspek ini tidak diperhatikan, maka beliau sama ibarat orang riya dan sum’ah. 

Ayat diatas menyimpulkan kemurnian  ilmu dan amal, yaitu ketauhidan dan keikhlasan dalam beramal. 

Dalam kitab “Bahrul Ulum” dikatakan: Jika Anda bertanya, apa makna riya? Dijawab: amal untuk selain Allah. Ini didasarkan atas sabda Nabi saw., “Suatu hal yang paling saya khawatirkan dari umatku ialah menyekutukan Allah. Aku tidak menyampaikan bahwa mereka menyembah matahari, bulan, pohon, dan berhala, tetapi melaksanakan amal untuk selain Allah Ta’ala” (HR. Ahmad).

Dalam Hadits lain ditegaskan, “Jika Allah telah mengumpulkan umat terdahulu dan umat lalu pada hari kiamat, suatu hari yang tidak diragukan lagi, tampillah penyeru menyerukan, ‘Siapa yang menyekutukan Allah dengan seseorang dalam beramal, mintalah pahala amalnya dari selain Allah, alasannya yaitu Allah sangat tidak memerlukan penyekutuan’.”  (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)


Wallahu A’lam

Ancaman Bagi Orang Yang Kikir

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa pada suatu hari ia tengah duduk. Tiba-tiba datanglah seorang wanita yang menyembunyikan tangannya. Aisyah bertanya, “Mengapa engkau tidak mengeluarkan tangan dari saku bajumu?” Dia menjawab, “Hai Ummul Mukminin, janganlah bertanya kepadaku. Sebenarnya, dahulu saya punya orang tua. Ayahku sangat gemar bersedekah, sedangkan ibuku membencinya. Aku tidak pernah melihat ibuku menyedekahkan sesuatu kecuali sekerat daging. Setelah keduanya wafat, saya bermimpi seakan-akan terjadi kiamat. Aku melihat ibuku berdiri saya pun melihat sekerat daging di tangannya dan ia menjilatinya. Dia berteriak, ‘Duhai hausnya!’ Aku pun melihat ayahku di telaga tengah minum. Memang ayahku sangat gemar menyedekahkan air. Aku pun mengambil sewadah air kemudian memberikannya kepada ibuku. Tiba-tiba ada bunyi berseru, ‘Potonglah tangan orang yang memberinya!’ Ketika bangun, ternyata tanganku sudah terpotong.”



Wallahu A’lam