Biografi Imam Al-Ghazali Bag. 2

Tasawuf yakni Jalan Kaum Pilihan

Suatu ketika Imam al-Ghazali sedang memberikan pesan tersirat kepada para ilmuwan dan para intelektual dalam sebuah majlis, tiba-tiba  adik dia yang dikenal sebagai seorang wali dan ulama sufi yang cerdik tinggi tiba menghampiri beliau. Dia kemudian melantunkan bait-bait puisi:

Engkau perintah mereka untuk ulet beribadah
Tetapi justru engkaulah contoh yang lemah
Engkau lihai memberikan ilmu, namun jauh dari hidayah
Engkau pintar memberi nasihat, tapi tidak menerima ibrah 

Wahai watu penajam pisau, 
Sampai kapan engkau hanya menciptakan pisau tajam 
Akan tetapi engkau tetap tumpul

Puisi ini keluar dengan dorongan rasa tulus yang berpengaruh sehingga bisa menembus hati Imam al-Ghazali yang paling dalam dan bisa menggugah kesadarannya wacana kebenaran hakiki yang harus dicari dan thariqah al-Haq yang segera harus dia jalani.

Sejak bencana ini, Imam al-Ghazali seringkali merenung dan menyendiri. Ketika itu kehidupannya goncang lantaran keraguan yang mencakup dirinya, Apakah semua yang telah diraih ini yakni kemuliaan yang benar? Apakah jalan yang selama ini dia tempuh yakni kebenaran yang sesungguhnya? Apakah tujuan dan gaya hidup yang selama ini dia ikuti sudah benar atau mungkin justru sangat salah?!. Kalau memang benar, kenapa jasad malas beribadah! Mengapa hati masih jauh dari Allah! Manakah rasa takut kepada Allah dan manakah rasa khawatir kepada nasib simpulan di hari kiamat! Dimana sifat kehati-hatian dalam berinteraksi dengan Allah! Bagaimana rasa kedekatan dengan Allah dan mirip apa rasa cinta kepada-Nya?!

Pertanyaan-pertanyaan dan aneka macam perasaan ragu di atas menciptakan Imam al-Ghazali semakin galau dan goncang, siang dan malam dia resah dan tidak tenang. Hal itu menyebabkan dia sulit tidur di malam hari atau beristirahat di siang hari, bahkan menciptakan dia banyak membisu menyendiri dan tidak lagi semangat menghadiri lembaga ilmiah yang biasa ia jalani.

Kegoncangan jiwa ini usang sekali menimpa beliau, pada dikala itu dia sering menyendiri dan merenung wacana perjalanan hidupnya selama ini, sambil memohon hidayah dari Allah swt., Dzat yang Maha memberi petunjuk. Muhasabah dan tafakur dia lakukan siang dan malam, hingga alhasil dia mendapatkan petunjuk dari Allah swt.

Imam al-Ghazali mulai tidak yakin kepada pengetahuan yang dihasilkan melalui pancaindera alasannya pancaindera sering kali salah atau berdusta, disamping dia juga bersifat fana dan sangat melelahkan. Beliau kemudian mencoba meletakkan kepercayaannya kepada pengetahuan akal, tetapi ternyata ia juga tidak memuaskan, justru ia semakin kebingungan dan kebuntuan. Karena ternyata logika yakni penghalang hati untuk mengenal Allah swt. atau untuk mendekat kepada-Nya. Pada akhirnya, Imam al-Ghazali merasa harus kembali kepada jalan para nabi serta para sahabatnya. Yaitu menempuh jalan kehidupan yang zuhud (tidak cinta dunia) dan wara’ (menjauhi hal-hal yang samar) serta memaksa diri untuk mematikan segala dorongan hawa nafsu yang diterangkan di dalam ilmu tasawuf. Beliau mulai yakin bahwa tasawuflah yang sanggup menghilangkan segala keraguan dan kegalauan yang melanda jiwanya dan dengan ilmu “membersihkan hati” itulah dia akan mendapatkan keyakinan yang benar. 

Makam Imam al-Ghazali 


Mujahadah dan Riyadhah

Setelah kebimbangan yang usang alhasil Imam al-Ghazali mendapatkan sebuah keyakinan bahwa dia harus membawa dirinya keluar dari Baghdad dengan meninggalkan segala kenikmatan dan kesenangan duniawi untuk menuju Allah swt. Maka pada tahun 1095 dia mengundurkan diri dari semua profesi dan jabatannya dan kemudian pergi mengembara dari satu daerah ke daerah yang lain, dari satu kota ke kota yang lain dan dari satu negara ke negara yang lain. Selama sepuluh tahun dia hidup sebagai sufi yang zuhud dan melanggengkan tirakat serta mujahadah nafsu dengan kesungguhan hati. Setiap dikala dia selalu melaksanakan pencucian qalbu dari segala penyakit dan mengosongkan hati dari selain zikir kepada Allah swt.  Awalnya dia menuju Damaskus (Suriah) untuk  beri’tikaf di menara masjid jami ’Umawi, kesibukannya hanya zikir, ibadah, puasa, qiyamul lail, menziarahi kubur Nabi Ibrahim as. dan mengekang hawa nafsu dari segala syahwat dan keinginannnya. Semua itu dia lakukan dalam keadaan menyamar sebagai orang biasa yang tidak dikenal. 

Setelah dua tahun tinggal di sana dia pergi menuju Palestina untuk beribadah dan beri’tikaf di masjid al-Aqsha. Setelah beberapa usang di sana hati dia tergerak oleh kerinduan yang dahsyat kepada kota Makkah dan kota Madinah, maka dia pergi kesana guna melaksanakan ibadah haji dan menziarahi makam Nabi Muhammad saw. 

Kemudian dia terbawa rasa rindu kepada kampung halaman dan daerah kelahiran. Maka sesudah selama sepuluh tahun berkelana, dia pulang kembali ke kota Thus pada tahun 1105 M. Kepulangan Imam al-Ghazali sangat mengejutkan penduduk kota Thus, Khurasan dan Baghdad, namun mereka lebih terkejut lagi dengan Imam al-Ghazali yang “baru” dan berbeda dengan Imam al-Ghazali yang dahulu, kini dia yakni seorang Imam al-Ghazali yang wali dan sufi sejati.

Berita wacana kepulangan Imam al-Ghazali juga terdengar oleh Perdana Menteri, para pembesar kerajaan dan para ulama, mereka kemudian tiba dan berkunjung kepada dia seraya meminta kepada dia supaya bersedia memimpina an-Nidhamiyyah di kota Nisabur. Pada dikala itu dia menjawab: “Aku ingin lebih banyak beribadah. Sebaiknya tunjuk saja orang yang lain!” Mereka menjawab, “Tidak boleh engkau menyimpan ilmu sementara kaum muslimin sangat membutuhkannya”. Oleh lantaran tuntutan dan permohonan semakin banyak dan terus meluas maka alhasil dia mendapatkan jabatan itu  untuk kedua kali. Akan tetapi kiprah itu tidak usang di jalankannya. Hanya beberapa dikala saja dia memimpin, kemudian meninggalkannya dan segera kembali ke kota Thus.

Pada masa-masa simpulan hidupnya di kota Thus, Imam al-Ghazali hidup sebagai sufi yang mantap, setiap hari acara dia hanyalah berzikir, membaca Al-Qur’an, puasa di siang hari, qiyamul lail dan mendidik para sufi yang tinggal bersama beliau. Disana dia mendirikan sebuah Zawiyah (pesantren kaum sufi untuk suluk dan bertirakat) dan sebuah Halaqah  untuk membantu para santri yang ingin menimba ilmu. Zawiyah dan Halaqah itu dia pimpin sendiri hingga kematian beliau.

Guru dan Panutan

Sebagaimana yang tertera di atas, Imam al-Ghazali telah mengambil ilmu dari para ulama dan para wali di zamannya, yang paling terkemuka diantara mereka adalah:

1.) Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani. Guru dikala masih kecil di kota Thus. Beliau andal fikih dan tasawuf

2.) Abu Nasr Al-Isma’ili. Guru dikala berguru di kota Jurjan.

3.) Abul Ma’aly Imam Haramain. Guru dikala berguru di kota Nisabur dan merupakan guru yang paling berjasa di dalam membentuk intelektualitasnya.

4.) Yusuf As-sajaj. Guru dikala berguru di sekolah kota Thus.

5.) Imam Muhammad Al-Faramidy. Salah seorang murid terkemuka Imam Al-Qusyairi, salah satu tokoh sufi. Darinya Imam al-Ghazali berguru ilmu tasawuf dan praktek pengamalannya.

6.) Abu Sahl al-Hafsyi

7.) Abul Fath al-Hakimi

8.) Abdullah bin Muhammad al-Khawari

9.) Muhammad bin Yahya as-Suja’i

10.) Al-Hafidz Umar ad-Daghistani

11.) Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi

Kepada enam guru terakhir ini Imam al-Ghazali mempelajari aneka macam ilmu wacana hadits dan sejarah.

Komentar Para Ulama Tentang Sosok Imam al-Ghazali 


A. Para Ulama Syariat


1.) Imam as-Subki, seorang pemimpin andal Hadis dan Fiqih berkata: “Beliau yakni seorang imam yang mulia dan merupakan singa ilmu yang sangat disegani. Beliau dijuluki Hujjatul Islam dikarenakan telah mematikan api fitnah yang dinyalakan oleh kaum andal bid’ah dan telah menjernihkan Islam dari aneka macam paham yang sesat.”

2.) Imam Manawi, pakar Ushul fikih dan Hadis berkata: “Beliau yakni lautan ilmu yang lebih dalam dari seluruh lautan dunia, dia yakni permata yang lebih indah dari seluruh permata dunia dan dia yakni seorang yang cerdik tinggi, bahkan lebih tinggi dari langit yang paling tinggi. Dia telah menyelami seluruh lautan ilmu dan meraih seluruh permata termahal yang tersimpan di dalamnya. Hidupnya telah diikhlaskan untuk mengabdi kepada agama dengan menempuh thariqat yang benar dan menghalau aneka macam bid’ah yang menyesatkan.”

3.) Ibnu Muqri, seorang hakim yang jujur dan terkemuka berkata: “Dengan menyebut namanya, hati akan hening dan jiwa akan hidup. Dengan ilmunya, karya-karya ilmiah akan menjadi terhormat dan sangat terkenal dan dikala mendengar nasihatnya semua ulama akan menundukkan kepala dan memperhatikan dengan seksama.”

4.) Imam andal hadis Ibnu Najjar al-Hanbali berkata: “Beliau yakni pemimpin ulama secara mutlak dan seorang ulama Rabbani yang dikagumi secara aklamasi. Seorang Mujtahid di masanya dan wali Allah yang tiada bandingan. Keharuman namanya telah tersebar di seluruh penjuru dunia dan keutamaannya telah dikenal oleh semua ulama, bahkan seluruh kelompok Islam telah setuju wacana keagungan dan kemuliaannya serta mengakui kebesaran jasanya di dalam menjawab paham andal bid’ah. Beliau yakni pembela sunnah dan benteng agama dari segala pemikiran fitnah serta seorang ulama produktif yang karya-karyanya kolam matahari, penuh manfaat dan tersebar ke seluruh dunia.”

5.) Imam as-Subki dan Imam as-Suyuthi menjelaskan dan meyakinkan bahwa Imam al-Ghazali yakni Mujaddid (pembaharu agama) pada periode kelima. Pendapat ini kemudian disepakati oleh hampir semua ulama.

6.) Imam Ibnu Asakir dan Imam Ibnu Sam’ani, keduanya telah menulis sejarah Imam al-Ghazali dalam karya yang khusus. Karya mereka sangat panjang dan cukup lengkap.

B. Para Ulama Thariqat dan Kaum Sufi

1.) Imam Abul Hasan asy-Syadzili, pendiri thariqah Syadziliyyah berkata: “Aku pernah bermimpi bertemu Nabi Muhammad saw., dikala itu dia ditemani oleh Nabi Musa dan Nabi Isa as., dan di antara mereka saya melihat Imam al-Ghazali. Dalam mimpi itu, saya melihat bahwa Nabi Muhammad saw. begitu gembira dengan Imam al-Ghazali, dia berkata: ‘Wahai Nabi Musa dan Nabi Isa, adakah di antara umat kalian seseorang yang sehebat orang ini (maksudnya al-Ghazali)? Keduanya kemudian menjawab: tidak ada’.”

2.) Imam abul Abbas al-Mursi, guru penulis kitab al-Hikam berkata: “Aku bersaksi bahwa Imam al-Ghazali telah mencapai maqam quthbiyyah yang paling agung. (peringkat tertinggi seorang wali berdasarkan istilah para sufi)

3.) Imam Ibnu Arabi, sufi ternama dan kontroversial ini berkata: “Beliau yakni pemimpin andal thariqat dan panutan besar bagi mereka.”

4.) Imam Abdullah al-Haddad: “Ada dua ulama yang saya belum pernah melihat bandingannya. Yang pertama yakni Imam al-Ghazali sebagai pemimpin andal syariat. Kedua yakni Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebagai pemimpin andal hakikat”. Beliau juga berkata: “Jika diibaratkan dengan pakaian,  sebenarnya pedoman dan aliran yang terbaik dari Islam telah dibuat dan dipilih “kainnya oleh Imam al-Ghazali kemudian digunting serta diserasikan oleh Imam al-Jailani dan Imam as-Sya’rani, kemudian saya yang telah menjahitnya hingga siap dipakai. Siapakah yang telah siap menggunakan dan mengamalkannya?!”

Wafatnya Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali wafat di kota Thus, Khurasan, Iran pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H. atau tahun 1111 M. 


Wallahu A’lam



Related Posts

0 komentar:

Post a Comment