Pendapat Imam Ahmad Wacana Qadar (Takdir)

1.) Imam Ibn al-Jauzi menuturkan dalam kitab “al-Manaqib” wacana kitab Imam Ahmad bin Hanbal karya Musaddad. Dalam kitab itu terdapat keterangan bahwa Imam Ahmad berkata: “Kita mengimani takdir yang baik, yang buruk, yang manis, yang pahit, semuanya dari Allah.”

2.) Imam al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr al-Marwazi, katanya, Imam Ahmad pernah ditanya: “Apakah kebaikan dan keburukan itu ditakdirkan kepada hamba Allah, dan apakah Allah membuat kebaikan dan keburukan?” Beliau menjawab: “Ya, Allah telah menetapkannya.”

3.) Dalam kitab “as-Sunnah” karya Imam Ahmad dia mengatakan: “Takdir itu, yang baik dan yang buruk, yang sedikit dan yang banyak, yang lahir dan yang batin, yang anggun dan yang pahit, yang disuka dan yang dibenci, yang elok dan yang jelek, yang awal dan yang akhir, semuanya sudah ditetapkan oleh Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dan tidak ada seorang pun dari hamba Allah yang sanggup keluar dari kehendak dan ketetapan Allah. ”



4.) Imam al-Khallal juga meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Harun, dari al-Harits, katanya, aku mendengar Imam Ahmad berkata: “Allah Ta’ala telah mentakdirkan ketaatan dan maksiat, kebaikan dan keburukan. Orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang berbahagia, maka ia berbahagia, dan orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang celaka, ia akan celaka.”

5.) Abdullah putera Imam Ahmad berkata, “Saya mendengar ayah saya, dikala dia ditanya Ali bin Jahm wacana “Orang yang berbicara wacana qadar, apakah ia menjadi kafir?” Beliau menjawab: “Ya apabila ia mengingkari ilmu Allah. Apabila ia beropini bahwa Allah itu tidak mengetahui, hingga Allah membuat ilmu, dan barulah Allah mengetahui, maka ia mengingkari ilmu Allah, dan dengan demikian ia menjadi kafir.”

6.) Abdullah, putera Imam Ahmad juga menuturkan, aku pernah bertanya pada ayah aku sekali lagi wacana shalat menjadi makmum di belakang paham Qadariyah. Beliau menjawab: “Apabila penganut Qadariyah itu selalu berdebat dan membuatkan paham tersebut, maka kau jangan shalat di belakangnya.”


Wallahu A’lam


Sumber: Kitab I’tiqadul A’immatil Arba’ah karya Syaikh Abdurrahman al-Khumais

Related Posts

0 komentar:

Post a Comment