Showing posts with label Kisah Nabi dan Rasul. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nabi dan Rasul. Show all posts

Kisah Nabi Muhammad Saw. (Pemersatu Umat Manusia)

Nabi Muhammad saw. ialah nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah swt., dia dilahirkan di kota Mekah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan tanggal 20 April 570 M.

Ayahnya berjulukan Abdullah bin Abdul Muthalib yang telah meninggal sebelum dia lahir. Ayahnya seorang saudagar yang selalu pergi berniaga ke negeri Syam (Syria). Pada ketika kembali dari berniaga, dalam perjalanan pulang menuju negeri Mekah ia jatuh sakit, hingga meninggal dan dimakamkan di Madinah.

Nasab Nabi Muhammad saw.

Ayah dia berjulukan Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Ibu dia berjulukan Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.

Nasab ibu dan ayah Nabi Muhammad saw. bertemu di datuk dia yang kelima yaitu Kilab. Beliau ialah dari keluarga Banu Hasyim dari suku Quraisy. Adapun suku Quraisy ialah suku yang kuat dan berkuasa. Beliau lahir dari keluarga yang miskin harta tetapi kaya perihal budi kebangsaan.

Yang Menyusukan Beliau

Kebiasaan bangsa Arab untuk menyusukan anak yang gres lahir, ialah mengambil perempuan yang hebat dalam menyusui belum dewasa mereka, sehingga sehat jasmani dan pikiran. Karena “Murabi” (istilah perempuan yang hebat alam menyusui anak) yang ada di kota Mekah pada ketika itu sangatlah sedikit, maka belum dewasa biasanya diserahkan kepada perempuan-perempuan dusun untuk disusukan di sana sebab ingin menerima belum dewasa yang hidup di tengah-tengah udara yang higienis di dalam dusun yang indah, dengan cita-cita membawa kepada kecerdasan otak dan keluhuran budi pekerti.

Karena kehidupan di desa masih suci dan bersih, Nabi Muhammad pun tidak terkecuali dari adat-istiadat tersebut. Empat tahun lamanya dia tinggal dengan ibu susuannya Halimah Sa‘diah di suatu dusun Bani Sa‘ad. Selama mengasuh Nabi Muhammad saw., Halimah Sa‘diah menerima rezeki yang berlimpah-limpah atas berkah mengasuh beliau.

Setelah itu Nabi Muhammad saw. dikembalikan kepada ibunya ketika berumur 5 tahun, untuk selanjutnya diasuh oleh Ummu Aiman Habasyiyah.

Masa Kanak-kanak

Siti Aminah amatlah setia kepada suaminya walaupun sudah meninggal, setiap tahunnya dia selalu pergi ke Madinah untuk menziarahi kubur suaminya dan bersilaturrahim ke rumah saudaranya Bani ‘Ady.

Saat Nabi Muhammad saw. berumur enam tahun, ibunya membawanya ke Yasrib untuk berziarah ke makam ayahnya dan disertai oleh Ummu Aiman Habasyiyah. Selama sebulan, mereka tinggal di Madinah sebelum kembali ke Mekah. Dalam perjalanan pulang ke Mekah, ketika mereka hingga di Abwa kota antara Madinah dan Mekah ibunya wafat dan dimakamkan di Abwa. Ummu Aiman Habasyiyah kembali ke Mekah bersama Nabi Muhammad saw. yang telah menjadi yatim piatu.

Pada waktu Nabi Muhammad berumur enam tahun sudah menjadi yatim piatu. Nabi Muhammad saw. diasuh oleh kakek dia yang berjulukan Abdul Muthalib. Dua tahun kemudian kakeknya pun meninggal dunia. Waktu itu dia berumur delapan tahun. Maka atas wasiat Abdul Muthalib, dia diasuh oleh pamannya Abu Thalib.

Paman Nabi Muhammad saw. ialah seorang miskin dan banyak anaknya. Paman Nabi Muhammad saw. sering pergi berniaga ke negeri Syam. Pada suatu hari Nabi juga ingin turut pergi ke negeri Syam, tetapi sebab masih kecil pamannya tidak berani membawanya.

Pada waktu umur dua belas tahun dia pergi ke negeri Syam bersama pamannya Abu Thalib untuk berniaga. Setelah tiba di Bushra (suatu kampung diperbatasan antara Suriah dan Jazirah Arab), Abu Thalib bertemu dengan seorang pendeta Kristen yang berjulukan Buhaira, dan pendeta itu berkata kepada Abu Thalib, “Anak ini nantinya akan mempunyai imbas yang besar, sebab di dalam dirinya terdapat tandatanda kenabian yang cocok sekali dengan apa yang terdapat dalam kitab Injil. Untuk itu bawalah pulang segera dan jagalah ia dari gangguan orang-orang Yahudi.”

Sebelum Diangkat Menjadi Rasul

Nabi Muhammad saw. semenjak kecil populer bersifat lurus dan benar dalam segala pekerjaan, dia tidak pernah minum arak, tidak pernah berjudi dan tidak pernah menyembah berhala.

Sebagaimana belum dewasa yang meningkat dewasa, Nabi Muhammad mencar ilmu bekerja mencari penghidupan dengan jalan menggembala domba (memelihara ternak), sebagai suatu citra betapa pentingnya peternakan itu bagi kehidupan ekonomi umat dan bangsa, sehingga para nabi dahulu pun memelihara domba atau ternak di masa hidupnya. Lagi pula sebagai latihan baginya untuk mencar ilmu memimpin umat kelak kemudian hari.

Ke Negeri Syam yang Kedua Kalinya

Ketika Nabi Muhammad berumur 25 tahun, ia pergi ke negeri Syam yang kedua kalinya untuk berniaga sendiri memperdagangkan barang-barang dagangan kepunyaan seorang perempuan janda yaitu Khadijah binti Khuailid.

Banyak pria yang memperlihatkan diri untuk memperdagangkan barang-barang dagangan Khadijah, tetapi Khadijah menentukan Nabi Muhammad sebab ia mendengar perihal sifat keamanahan, kejujuran, kebenaran, dan sifat-sifat terpuji Nabi Muhammad.

Ketika itu, Nabi Muhammad berniaga disertai Maisarah (pembantu Khadijah), Nabi Muhammad menjual dagangannya dengan jujur sehingga habislah seluruh dagangannya dengan mendapatkan laba yang luar biasa. Sehingga perniagaan Nabi Muhammad membawa berkah. Alangkah herannya hati Maisarah melihat sopan santun Nabi Muhammad, yang kemudian menceritakan kepada Khadijah segala yang ia lihat perihal ketangkasan dan kejujuran Nabi Muhammad.

Khadijah merasa takjub dengan apa yang di dengar perihal prilaku Nabi Muhammad. Ia bangga tak terhingga sebab perniagaannya menerima laba besar.

Perkawinan Nabi Muhammad saw. dengan Khadijah

Kesuksesan Nabi Muhammad memperdagangkan perniagaan milik Khadijah, menciptakan Khadijah merasa tertarik kepada Nabi Muhammad, sebab kemuliaan akhlaknya. Kemudian Khadijah mengirim utusan untuk meminang Nabi Muhammad. Nabi Muhammad mendapatkan lamaran Khadijah dan mengutus pamannya, Abi Thalib untuk memberikan persetujuannya.

Kemudian mereka menikah, waktu itu dia berumur 25 tahun dan Khadijah sudah janda dengan umur 40 tahun. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad, Khadijah pernah menikah dengan Abi Halah, suaminya meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak pria berjulukan Halah.

Makam Nabi Muhammad saw.


Putusan Nabi Muhammad Terhadap Kaum Quraisy Sebelum Menjadi Nabi

Ketika Nabi Muhammad berusia 35 tahun, terjadilah banjir besar di Mekah yang meruntuhkan dinding Ka‘bah. Kemudian kaum Quraisy berusaha membangun kembali dan Nabi Muhammad pun ikut bekerja bahu-membahu mereka.

Setelah pekerjaan selesai, kaum Quraisy akan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula. Ketika itu timbullah perselisihan pendapat di kalangan pembesar-pembesar kaum Quraisy, mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Mereka saling berdebat dan hampir terjadi peperangan di kalangan mereka.

Berkatalah Abu Umayah bin Mughirah sebagai orang tertua dan kuat di kalangan kaum Quraisy, “Hai kaumku, janganlah kalian saling bertentangan, buatlah peraturan di antara kamu, siapa pun hendaknya rela mendapatkan peraturan itu.”

Kemudian mereka menciptakan kesepakatan, “Barang siapa yang paling awal masuk ke Masjidilharam, berhak untuk meletakkan Hajar Aswad.” Ternyata yang pertama kali masuk ke Masjidilharam ialah Nabi Muhammad, dengan demikian beliaulah yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula.

Kemudian Nabi Muhammad melakukan tugasnya. Beliau membentangkan serbannya, kemudian Nabi Muhammad meletakkan kerikil itu di atas serban dan dia meminta kepada setiap pimpinan kaum Quraisy untuk memegang ujung serban itu. Kemudian dengan serban itu Nabi menyuruh mereka bahu-membahu mengangkat Hajar Aswad. Setelah hingga di tempatnya, Nabi Muhammad sendiri yang mengambil Hajar Aswad itu dan meletakkan di tempatnya. Mereka semuanya rela dan merasa puas dengan keputusan Nabi Muhammad yang jujur dan benar dalam segala perkataan dan perbuatan, cerdas, serta berpikiran cemerlang. Lalu mereka bersatu dan berseru, “Inilah Muhammad “Al-Amin.”Artinya Muhammad orang yang terpercaya. Dengan inisiatif Nabi Muhammad ini selesailah kesulitan yang hampir membawa tragedi besar di kalangan kaum Quraisy.

Dari pola tersebut di atas terbuktilah bahwa orang yang telah diangkat atau terpilih menjadi pemimpin untuk memimpin suatu kiprah dan pekerjaan janganlah ia memborong segala pekerjaannya, tetapi hendaklah ia berakal dan bijaksana membagi kiprah dan pekerjaan itu kepada siapa yang berhak mendapatkan pembagian dan sebagai suatu jalan yang simpel buat mendidik para kader pemimpin untuk persiapan kelak di kemudian hari.

Menjadi Rasul

Setelah Nabi Muhammad genap berusia 40 tahun, dia merasa senang berkhalwat dan mendekatkan diri kepada Allah, sehingga menentukan tempar ‘uzlahnya di Gua Hira’. Kemudian datanglah kepada dia Malaikat Jibril menyatakan pengangkatan dia menjadi rasul Allah kepada seluruh umat manusia, serta diajarkannya kepada dia perihal agama Islam. Pada waktu itu dia mendapatkan wahyu yang pertama, yaitu surah Al-‘Alaq, ayat 1 hingga 5 (surah Iqra').

Penduduk Mekah pada waktu itu masih menyembah berhala, kemudian Rasulullah memulai mengajak mereka menyembah Allah, dan meninggalkan penyembahan berhala.

Menyiarkan Islam

Beliau mula-mula menyiarkan Islam secara belakang layar dengan rahasia selama 3 tahun, yang waktu itu ditujukan kepada kerabat saja. Kemudian Islam segera diterima oleh Khadijah istri beliau. Kemudian menyusul, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harisah, dan karenanya cukuplah jumlah pemeluk agama Islam empat puluh orang.

Setelah dia cukup mempunyai kekuatan, kemudian dia diperintahkan Allah untuk menyiarkan Islam dengan terang-terangan, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur'an:

“Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr/15: 94)

Karena Allah telah memerintahkan dakwah secara terang-terangan, maka dia tiba di pasar-pasar dan di tempat-tempat orang banyak berkumpul. Di sana dia membacakan Al-Qur'an dan dia ajak penduduk Mekah memeluk Islam. Akhirnya banyak sahabat yang memeluk Islam pada masa itu, antara lain Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan.

Berita agama Islam terdengarlah mulai dari Mekah hingga ke Madinah. Maka tertariklah penduduk Madinah terhadap Islam, kemudian berduyun-duyunlah mereka memeluk Islam.

Hijrah ke Madinah

Dua belas tahun sudah Nabi Muhammad berdakwah, tetapi kaum kafir Quraisy tetap belum mau mendapatkan risalah kenabiannya, bahkan saingan dan tantangan dari kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi hingga pada rencana membunuh Nabi Muhammad. Karena tekanan kafir Quraisy Mekah terhadap dakwah Nabi Muhammad saw. yang demikian hebatnya, maka hijrahlah dia bersama sahabatnya ke Madinah. Beliau berangkat dengan sahabat yang setia yaitu Abu Bakar dengan sembunyi-sembunyi.

Sebelum hingga di Madinah, Nabi Muhammad dan Abu Bakar singgah di Quba, sebuah desa yang jaraknya 10 km dari Madinah. Selama di Quba, Nabi Muhammad mendirikan masjid yang pertama dalam sejarah Islam, ibarat kita ketahui dengan nama Masjid Quba. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba dari Mekah, kemudian bahu-membahu melanjutkan perjalanan hingga karenanya sampailah dia di Madinah.

Tiba di Madinah

Setelah penduduk Madinah menerima isu perihal kedatangan Nabi Muhammad saw. ke Madinah, mereka semua keluar rumah untuk menyambut kedatangan beliau, mereka mengucapkan takbir, semua menyambut dengan penuh kegembiraan dan bersukaria yang disertai dengan tempuk sorak. Kaum perempuan dan belum dewasa menyambut sambil bernyanyi dengan riangnya memuji dan menyanjung kedatangan Nabi Muhammad saw., serta ikrar patuh dan setia terhadap perintah agama.

Kepada penduduk Madinah Nabi Muhammad saw. memberikan gelar “Al-Anshar”, artinya orang-orang yang menolong, sedangkan kepada penduduk Mekah yang hijrah, mereka diberi gelar “Al-Muhajirin”, kemudian antara kaum Anshar dan Muhajirin diikatkan tali persaudaraan yang teguh.

Mekah Takluk dan Bangsa Arab Tunduk

Pada tahun ke-8 Hijriah Nabi bersama para sahabatnya, sanggup merebut kembali kota Mekah dari tangan kafir Quraisy. Nabi dan tentara Islam yang berjumlah sepuluh ribu orang, memasuki kota Mekah tanpa perlawanan kaum kafir Quraisy. Kemudian dia menuju Ka‘bah dan menghancurkan berhala-berhala di sekeliling Ka‘bah. Mekah takluk dan bangsa Arab tunduk.

Pada hari itu sejumlah besar penduduk Mekah memeluk Islam, dan Rasulullah memberikan ampunan umum kepada mereka yang telah bersalah. Kecuali beberapa orang saja yang masih keras menentang Rasul Allah.

Setelah selesai mengatur segala sesuatu yang berafiliasi dengan urusan keamanan dan pemerintahan, dia menyerahkan kepercayaan kepada rakyat, kemudian dia kembali lagi untuk sementara ke Madinah.

Kemudian pada tahun ke-10 Hijriah dia kembali lagi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji wada’ (haji perpisahan). Di sana di Padang Arafah dia berkhutbah yang amat penting sekali menyatakan wajib haji, kemudian Islam dan beberapa wasiat yang penting-penting.

Beliau Wafat

Setelah dia selesai menunaikan tugasnya menyiarkan Islam, dan Islam telah tersebar di kalangan penduduk Arab dan sekitarnya, maka dua bulan sehabis menunaikan ibadah haji wada, Nabi saw. menderita sakit demam, sehabis beberapa hari sakit, Nabi saw. kembali ke haribaan Allah pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah atau 8 Juni 632 M, Nabi Muhammad saw. wafat dalam usia 63 tahun, dan dimakamkan di Madinah. Beliau wafat sehabis berjuang menegakkan Islam dalam masa dua puluh tiga tahun untuk kebahagiaan hamba Allah di dunia dan di akhirat.

AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW. DAN JASA-JASA BELIAU

1.) Dalam perjalanan hidupnya semenjak kecil hingga cukup umur dan hingga diangkat menjadi rasul, dia populer sebagai orang yang jujur dan berkepribadian yang tinggi. Karena jujurnya dalam perbuatan dan perkataan, maka dia diberi julukan “Al-Amin”, artinya orang yang sanggup dipercaya. Para hebat sejarah mengakui, bahwa Muhammad semenjak kecil hingga cukup umur tidak pernah menyembah berhala, dan tidak pernah makan daging yang disembelih untuk korban berhala. Sebagai insan yang bakal menjadi pembimbing umat manusia, Muhammad mempunyai talenta dan kemampuan jiwa yang besar, kecerdasan pikiran, cepat tanggapnya dan keras kemauannya. Beliau mengetahui babak-babak sejarah negeri dan kesedihan masyarakat dan pemandangannya itu tidak hilang dari ingatannya.

2.) Jasa-jasa beliau:

a.) Amat besar jasa-jasa dia terhadap perikemanusiaan dan pembangunan budi pekerti dan sopan santun seluruh bangsa. Beliaulah yang pertama kali menaburkan bibit persamaan hak, keadilan dan demokrasi antar manusia.

b.) Meletakkan dan meninggikan Islam untuk seluruh bangsa, dan menyebabkan Islam sebagai tali penghubung antar insan dengan insan dan antar insan dengan Allah swt.

c.) Mempersatukan segala bangsa di bawah panji-panji tauhid untuk membawa umat menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Isa As. (Nabinya Kaum Teraniaya)

Nabi Isa as. ibunya berjulukan Maryam dan dia dilahirkan tidak berayah, atas qudrat iradat Allah swt. Beliau lahir pada tahun 622 sebelum tahun hijrah. Kelahiran dia tanpa ayah ini merupakan ujian bagi manusia, apakah insan tidak percaya atas kekuasaan Allah?

Maryam ialah putri Imran bin Matsan, ibunya berjulukan Hannah saudara perempuan Isya istri Nabi Zakaria. Maryam seorang anak yang shalehah. Setelah beranjak dewasa, ia tekun membaktikan dirinya di daerah ibadah dan menjauhkan diri dari khalayak ramai untuk beribadah kepada Allah.

Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menemui Maryam. Setiap kali menemui Maryam, Malaikat Jibril menyerupakan dirinya sebagai manusia, Maryam menerka kalau Malaikat Jibril itu insan biasa yang ingin berbuat jahat, sehingga Maryam mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah atas kejahatanmu dan berserah diri kepada-Nya untuk menjaga kemuliaan dan kesucianku. Kalau engkau takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, menjauhlah dari sisiku!”. Kemudian Malaikat Jibril menjawab, “Aku bukanlah insan menyerupai yang kau kira, akan tetapi saya ialah malaikat yang diutus Allah untuk mengaruniaimu seorang anak pria yang shaleh dan takwa, serta berbagi kebaikan dan keberkahan.” Maryam terkejut mendengar perkataan Malaikat Jibril, seraya berkata, “Bagaimana mungkin saya mempunyai seorang anak laki-laki, sedangkan saya belum pernah disentuh laki-laki, dan saya bukan pula perempuan pelacur?” Malaikat Jibril berkata, “Yang saya katakan itu benar, Tuhanmu berfirman, “Bahwa menitahkan seorang anak tanpa bapak bagi-Ku ialah mudah, semoga hal ini menjadi suatu tanda kebesaran-Ku, dan semoga menjadi rahmat bagi orang yang mau mengambilnya sebagai petunjuk, dan penciptaan Isa merupakan suatu yang sudah ditentukan dan harus terjadi.” Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an:

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur'an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu daerah di sebelah timur (Baitulmaqdis), kemudian dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; kemudian Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk insan yang sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, saya berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, kalau engkau orang yang bertakwa.” Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya saya hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberikan anugerah kepadamu seorang anak pria yang suci.” Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin saya mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan saya bukan seorang pezina!” Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu gampang bagi-Ku, dan semoga Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi insan dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu ialah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”(QS. Maryam/19: 16-21)

Maryam Mengandung Isa dan Kelahirannya

Kehamilan Maryam dimulai semenjak Malaikat Jibril meniupkan sesuatu ke dalam perutnya. Maryam melamun, membayangkan apa yang akan dikatakan orang terhadap dirinya, kalau seorang gadis telah hamil dan melahirkan anak tanpa suami. Pikiran yang demikian itu selalu membayangi dirinya sehingga ia menggigil ketakutan, bahkan mendorong dirinya lebih bahagia menyendiri, menyepi dan menjauhkan diri dari pergaulan orang banyak. Maka Maryam pergi ke daerah terpencil untuk mengurung diri. Setelah tiba saat-saat melahirkan, ia merasa sakit untuk melahirkan. Ia terpaksa menghampiri pohon kurma untuk bersembunyi dan bersandar padanya. Saat itu ia menyadari benar bahwa dirinya akan tertimpa malu yang hebat. Ia termenung dan mengkhayal, andaikan simpulan hidup merenggut dirinya sebelum terjadinya insiden yang dialaminya itu, pasti ia akan bebas dari malu dan orang lain tidak akan menghiraukannya.

Pada ketika yang kritis ini, datanglah kasih sayang dan pemberian Allah. Terdengarlah bunyi Malaikat Jibril memanggil dari daerah yang tidak jauh dari daerah yang lebih rendah dari tempatnya. Malaikat Jibril menenangkan hatinya dengan menyampaikan bahwa Allah senantiasa memperlihatkan rezeki (makanan) padanya. Ia cukup menggoyangkan pohon kurma yang disandarinya itu, pasti akan berjatuhan buah-buah yang sudah masak dan ia sanggup eksklusif menikmatinya. Di bawahnya juga terdapat anak sungai yang mengalir, yang airnya sanggup dipergunakan untuk minum, membersihkan diri dan bersenang-senang. Selanjutnya Malaikat Jibril menasehati, kalau suatu ketika berhadapan dengan orang yang mencela atau menanyakan perihal kehamilannya, maka tak perlu dijawab, tetapi cukup instruksi kepada mereka, “Bahwa saya bernazar puasa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dan tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an:

“Maka dia (Maryam) mengandung, kemudian dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke daerah yang jauh. Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) saya mati sebelum ini, dan saya menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari daerah yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati, bekerjsama Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, pasti (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya saya telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka saya tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” (QS. Maryam/19: 22-26)

Setelah Maryam melahirkan, kemudian Isa dibawa ke tengah masyarakat. Mereka terkejut, lantaran mereka mengetahui dengan baik kalau Maryam seorang yang tekun beribadah, maka gemparlah penduduk kampungnya, melihat seorang anak gadis yang tak bersuami tetapi ia hamil dan melahirkan anak. Hal ini menyebabkan keraguan dan tuduhan yang tidak baik terhadap Maryam. Dasar keraguan dan tuduhan mereka itu sepertinya memang berpengaruh dan beralasan. Sedangkan alasan tersebut ialah suatu yang riil, tidak sanggup diragukan lagi oleh kebenaran inderawinya.

Menanggapi semua tuduhan mereka itu, Maryam hanya membisu sesuai dengan wasiat Malaikat Jibril. Ia hanya memberi instruksi kepada anaknya yang masih dalam buaian untuk menanggapi mereka, tetapi mereka bertambah murka lantaran menyangka Maryam menghina mereka. Sebab anak kecil dalam buaian, lazimnya mustahil sanggup berbicara, akan tetapi Isa sanggup menjawab pertanyaan mereka dengan terang dan tegas, sehingga sanggup menenteramkan hati ibunya. Isa digerakkan oleh Allah untuk sanggup berbicara, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an:

“Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya saya hamba Allah, Dia memberiku kitab (Injil) dan Dia menjadikan saya seorang nabi, dan Dia menjadikan saya seorang yang diberkahi di mana saja saya berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama saya hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan saya seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari saya dibangkitkan hidup kembali.” Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya.” (QS. Maryam/19: 30-34)

Maryam Membawa Nabi Isa Hijrah ke Mesir

Penduduk Yerusalem mengenal Nabi Isa sebagai cowok yang cerdik, pintar, berani, tegas dalam membela kebenaran, dan tidak pernah tunduk dalam menghadapi kebatilan. Sikap dan pendirian ini diketahui oleh Raja Herodus yang berkuasa di Palestina. Ia menganggap Nabi Isa sebagai musuh utama yang sanggup mengancam kedudukannya. Raja Herodus pun tetapkan untuk membunuh Nabi Isa. Rencana jahat ini diketahui Maryam. Oleh lantaran itu, Maryam membawa putranya pindah ke negeri Mesir. Maryam dan Nabi Isa tinggal di Mesir selama 12 tahun.

Setelah Raja Herodus wafat, Nabi Isa dan ibunya kembali ke Palestina dan mereka menetap di Nasirah (Nasaret). Pada usia 30 tahun, Nabi Isa sering pergi ke luar rumah untuk mengasingkan diri dari keramaian, membersihkan nurani dan mencari pencerahan jiwa. Ketika menuju ke Bukit Zaitun, Nabi Isa jatuh tertunduk di bersahabat sebuah kerikil besar. Tiba-tiba ada yang tiba menghampirinya, kemudian memintanya semoga kerikil besar itu dijadikan roti, namun Nabi Isa tidak mengabulkannya. Nabi Isa berkata, “Kebesaran tuhan hanya ada pada Allah.” Mendengar balasan ini, orang itu yakin bahwa iman Nabi Isa tetap teguh, kemudian ia pun menghilang. Nabi Isa sadar bahwa yang menghampirinya itu ialah iblis yang berusaha menyesatkannya.

Setelah kejadian itu, Nabi Isa bersujud dan bersyukur lantaran selamat dari godaan iblis. Tidak usang kemudian, Malaikat Jibril mendatanginya untuk memberikan kiprah kenabian dan kerasulannya. Nabi Isa mendapatkan wahyu dari Allah swt. yaitu kitab Alkitab yang membenarkan kitab sebelumnya (Taurat), dan nubuat perihal akan turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad saw. yang disebut Ahmad. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

“Dan Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat dan Injil. Dan sebagai rasul kepada Bani Israil.” (QS. Ali Imran/3: 48-49)

Nabi Isa as. diangkat menjadi rasul ketika dia berumur 30 tahun. Sejak ketika itu Nabi Isa mulai berjuang menyiarkan fatwa Allah swt. membeberkan kesalahan dan kesesatan pendeta-pendeta Yahudi, yang telah jauh menyimpang dari fatwa Taurat (Nabi Musa). Karena itu, ia menyeru Bani Israil semoga mereka mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah swt.

Nabi Isa berdakwah supaya mereka bertobat, kembali ke jalan yang benar yaitu fatwa Taurat (Nabi Musa). Namun, dakwah Nabi Isa menerima perlawanan dengan banyak sekali fitnah dan ejekan. Mereka meminta Nabi Isa untuk pertanda kenabian dan kerasulannya. Kemudian Nabi Isa memperlihatkan beberapa mukjizat kepada mereka, yaitu:

1.) Menghidupkan orang mati dengan izin Allah.

2.) Menerima wahyu (kitab Injil).

3.) Menurunkan hidangan dari langit.

4.) Menyembuhkan sejumlah penderita penyakit serta orang gila.

5.) Memulihkan orang pincang menjadi berjalan, serta memulihkan orang bisu sanggup berbicara.

6.) Menyembuhkan orang buta semenjak lahir.

7.) Membuat burung dari tanah dan menghidupkannya.

Setelah Nabi Isa memperlihatkan beberapa mukjizat, mereka tetap saja ada yang tidak percaya. Namun demikian Nabi Isa mempunyai beberapa sahabat, murid dan pengikut setia sebanyak 12 orang yang disebut “Al-Hawariyyun” artinya sahabat-sahabat Nabi Isa. Mereka menyakini dakwah Nabi Isa, berhati bersih, dan beriktikad baik untuk membela serta membantu usaha Nabi Isa.

Sebagian dari Hawariyyun ada yang berasal dari keluarga nelayan menyerupai Syam‘un, Adrius, Ya‘qub dan Yuhanna. Ada juga yang berasal dari keluarga pencuci pakaian, yaitu Lukas, Thomas, Markus, Yuhanna dan beberapa saudara yang masih kecil.



Nabi Isa as. Akan Dibunuh

Di antara sahabat-sahabat Isa itu, ada yang murtad dan berkhianat yaitu “Yahuza Iskarius” (Yudas Iskariot). Ia mengadukan tuduhan palsu kepada penguasa Romawi bahwa Nabi Isa akan memberontak dan menggulingkan penguasa. Atas petunjuk dari pengkhianat (Yudas), tentara Romawi mengepung daerah persembunyian Nabi Isa bersama murid-muridnya. Dalam keadaan berbahaya itu, Allah menyelamatkan Nabi Isa. Nabi Isa tidak disalib dan tidak pula dibunuh, tetapi Allah mengangkatnya. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al-Qur'an:

“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan denganIsa.” (QS. An-Nisa'/4: 157)

Menurut banyak mufassir, Allah swt. menjadikan wajah Yudas Iskariot, si pengkhianat itu diserupakan dengan wajah Nabi Isa sehingga Yudas Iskariotlah yang disangka Nabi Isa itu ditangkap oleh tentara Romawi dan disalib.

Kekuasaan Allah lebih dan melebihi kekuasaan segala-galanya dan rencana insan tidak semuanya sanggup berhasil, tetapi rencana Allah yang pasti terlaksana.

Ajaran Al-Qur'an Terhadap Nabi Isa as.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

“Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia hendak tetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Maryam/19: 35)

Ajaran Nabi Isa Sama Dengan Ajaran Islam Tentang Tuhan

“(Isa berkata), “Dan bekerjsama Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini ialah jalan yang lurus”.” (QS. Maryam/19: 36)

Pandangan Islam Terhadap Nabi Isa as.

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan nirwana baginya dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al-Ma’idah/5: 72)

Selanjutnya Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang menyampaikan bahwa Allah ialah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” (QS. Al-Ma'idah/5: 73)

Nabi Isa as. ialah semata-mata utusan Allah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (ahli kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh impian mereka).” (QS. Al-Ma'idah/5: 75)


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Yahya As. (Dibunuh Secara Kejam Oleh Kaumnya)

Nabi Yahya as. dilahirkan ketika orang tuanya sudah berusia lanjut, Nabi Yahya lahir pada tahun 7 SM merupakan anak satu-satunya Nabi Zakaria as. Ibunya berjulukan Isya yaitu saudara wanita Hannah istri Imran, ibunya Maryam.

Sejak kecil Nabi Yahya sudah diajari dan hafal ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab Taurat dan Zabur, sehingga terpelihara dari perbuatan syirik dan maksiat, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an:

“Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan pesan yang tersirat kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak, dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan higienis (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam/19: 12-13)

Nabi Yahya selama hidupnya tidak pernah berbuat salah, banyak berbakti dan berbuat baik terhadap kedua orang tuanya, tidak keras dan takabur. Beliau seorang yang tawadu' dan lemah lembut, diberi penghormatan dan keselamatan oleh Allah swt., serta dihindarkan dari ancaman dan penyakit. Pada waktu lahir, wafat dan hari kiamat, dia dibangkitkan kembali dengan kemuliaan di hadapan Tuhannya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qu'an:

“Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka. Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam/19: 14-15)

Nabi Yahya diangkat Allah swt. menjadi nabi pada tahun 27 M. Ia membantu ayahnya berdakwah dengan mengingatkan kaumnya dan para pemimpin Bani Israil yang melanggar aturan Taurat. Ia sangat berani menegakkan kebenaran dan memberlakukan aturan agama dengan tegas. Ia selalu menganjurkan semoga kaumnya yang berdosa segera bertobat. Pertobatan ini ditandai dengan dipermandikan (dibabtis) di sungai Yordan. Karena itu, Yahya dijuluki Al-Ma‘madan (pembaptis)



Nabi Yahya dan Nabi Zakaria Wafat

Nabi Yahya hidup pada masa Yerusalem berasa di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi (4 SM - 39 M) dan Herodus sebagai penguasanya. Suatu ketika Raja Herodus berencana menikahi anak tirinya (Herodia), dan Nabi Yahya mengetahui planning itu. Maka dia mengeluarkan fatwa larangan, alasannya yaitu berdasarkan aturan Taurat haram hukumnya menikahi anak tiri. Herodia tidak ingin pernikahannya gagal, maka ia meminta Raja Herodus untuk membunuh Nabi Yahya. Akhirnya Raja Herodus menangkap dan memenjarakan Nabi Yahya, kemudian membunuhnya untuk memenuhi seruan kekasihnya (anak tirinya).

Nabi Yahya dan ayahnya (Nabi Zakaria) dianggap menghalangi kemauan raja, kemudian keduanya dibunuh. Mula-mula Nabi Yahya lebih dahulu dibunuh, kemudian atas izin Allah Nabi Zakaria masuk ke dalam suatu pohon yang waktu itu membelah diri menjadi dua, kemudian Nabi Zakaria masuk ke dalam pohon itu, sesudah Nabi Zakaria masuk ke dalamnya, maka pohon itu menutup kembali menyerupai semula.

Petugas raja mencari-cari Nabi Zakaria, tetapi di daerah persembunyiannya tidak diketemukan. Maka mereka beropini bahwa Nabi Zakaria niscaya memiliki sihir dan tentulah ia berada dalam pohon itu untuk bersembunyi. Pohon itu pun digergajinya, maka matilah Nabi Zakaria di dalamnya alasannya yaitu terpotong gergaji menjadi dua.

Demikian riwayat rasul Allah dalam mempertahankan aturan Allah. Karena kerasnya mempertahankan aturan Allah, ia terbunuh menjadi syahid.


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Zakaria As. (Dibunuh Oleh Kaum Bani Israil)

Nabi Zakaria as. ialah keturunan Nabi Sulaiman as. Beliau diutus sebagai nabi dan rasul di kalangan Bani Israil. Istrinya berjulukan Isya saudara wanita Hannah istri Imran bin Matsan. Imran bin Matsan ialah ayah Maryam. Maryam ialah ibu Nabi Isa as.

Nabi Zakaria mengajarkan kitab Taurat dan Zabur. Beliau menghabiskan umurnya untuk berdakwah di jalan Allah dan memelihara Haikal di Baitulmaqdis.

Hannah ingin mempunyai anak, maka ia memohon kepada Allah dengan nazar, “Kalau kami memperoleh anak, akan kuberikan ke Baitulmaqdis, untuk memelihara rumah Allah, yakni rumah daerah beribadah kepada Allah.” Firman Allah dalam Al-Qur'an:

“(Ingatlah), dikala istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, bahwasanya saya bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran/3: 35)

Permintaan itu dikabulkan Allah, ia pun hamil namun suaminya meninggal dunia sebelum bayinya lahir.

Maryam Lahir

Hannah melahirkan anak perempuan, dan sebab nazarnya bila melahirkan seorang anak akan diserahkan kepada Baitulmaqdis, maka nazar ini dilaksanakan, dan bayinya diberi nama Maryam. Bayi yang kecil ini dititipkan kepada Zakaria untuk dipeliharanya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an:

“Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali‘Imran/3: 37)

Makam Nabi Zakaria as.


Zakaria Ingin Mendapat Anak

Nabi Zakaria as. yang sudah lanjut usianya ingin mendapat anak, sedangkan waktu itu umurnya 100 tahun. Beliau sangat merindukan lahirnya seorang anak, dia senantiasa memohon kepada Allah atas kerinduannya itu dengan anugerah seorang anak pria yang sanggup melanjutkan dakwahnya. Hasrat untuk mempunyai anak semakin kuat, dikala saudara wanita istrinya, Hannah (istri Imran) melahirkan anak wanita berjulukan Maryam. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an:

“Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan saya belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, saya khawatir terhadap  kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah saya seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi saya dan mewarisi dari keluarga Ya‘qub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.” (QS. Maryam/19: 4-6)

Doa Nabi Zakaria as. dikabulkan Allah, walaupun dia sudah berumur lanjut dan istrinya seorang yang mandul, tetapi sebab Allah menghendakinya, pasti semuanya gampang bagi-Nya. Allah berfirman:

“(Allah berfirman), ‘Wahai Zakaria! Kami, memberi kabar bangga kepadamu dengan seorang anak pria namanya Yahya, yang Kami belum pernah memperlihatkan nama menyerupai itu sebelumnya.’ Dia (Zakaria) berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana saya akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan saya (sendiri) bahwasanya sudah mencapai usia yang sangat tua?’ (Allah) berfirman, ‘Demikianlah.’ Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu gampang bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.’” (QS. Maryam/19: 7-9)

Tanda-tanda Nabi Zakaria akan mendapat anak, tersebut dalam Al-Qur'an:

“Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, berilah saya suatu tanda.” (Allah) berfirman, “Tandamu ialah engkau tidak sanggup bercakap-cakap dengan insan selama tiga malam, padahal engkau sehat.” Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, kemudian dia memberi arahan kepada mereka, bertasbihlah kau pada waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam/19: 10-11)

Setelah itu Nabi Zakaria tidak berbicara dengan siapa pun selama tiga hari dan bila dia ke daerah sembahyang disuruhnya orang-orang beribadah dengan arahan saja. Di waktu ia akan sembahyang, datanglah malaikat memberitahukan kepadanya, seraya berkata, “Hai Zakaria! Allah akan memberi kepada engkau seorang anak, namanya Yahya.” Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

“Kemudian para malaikat memanggilnya, dikala dia bangun melakukan salat di mihrab, ‘Allah memberikan kabar bangga kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.’” (QS. Ali‘Imran/3: 39)

Setelah Yahya lahir, maka semenjak kecilnya ia menjadi seorang yang saleh, terpelihara dari perbuatan syirik dan maksiat, dan sesudah remaja diangkat Allah menjadi utusan-Nya. Demikian Nabi Zakaria memperoleh anak berjulukan Yahya.

Nabi Zakaria meninggal sebab terbunuh, terbawa oleh keadaan waktu itu bersama anaknya, sehingga keduanya mati syahid, yaitu mati memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Yunus As. (Tobat Kaumnya Diterima Allah)

Nabi Yunus as. yakni putra Matta. Pada mulanya ia bermukim di Syam, kemudian hijrah ke Ninawa, sebuah wilayah di Irak. Setelah berumur 30 tahun Nabi Yunus diangkat menjadi rasul untuk mengingatkan kaumnya yang durhaka dan menyembah berhala.

Setelah 33 tahun Nabi Yunus berdakwah kepada kaumnya, hanya dua orang saja yang beriman kepada Allah, yaitu Rubil dan Tanukh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud ra., “Ketika Nabi Yunus telah menyeru kaumnya supaya berbakti kepada Allah, maka kaumnya tetap saja menolak undangan itu.”

Lalu Nabi Yunus berdoa kepada Allah, mohon supaya umatnya mau mendapatkan ajarannya. Kemudian turunlah wahyu yang menyatakan supaya Yunus tetap berdakwah kepada umatnya dalam 40 hari, dan apabila dalam 40 hari mereka masih tidak mau beriman kepada Allah, Allah akan menurunkan azab.

Kemudian Nabi Yunus kembali berdakwah kepada kaumnya, sesudah 37 hari berdakwah dan umatnya tetap saja kufur, maka Nabi Yunus tidak sabar dan pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Kemudian pada hari yang ke-40, kaum Nabi Yunus merasa yakin bahwa azab akan tiba menimpa mereka, alasannya yakni gejalanya sudah mulai tampak, berupa awan hitam yang bergumpal-gumpal di langit.

Melihat azab sudah dekat, mereka berlarian keluar rumah pergi ke suatu tempat. Kemudian Allah memasukkan perasaan ke dalam hati kaum Nabi Yunus untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Mereka semua menangis, baik pria, perempuan maupun anak-anak. Mereka meratapi kedurhakaannya, dan mereka menundukkan diri kepada Allah.

Pada dikala yang genting dan angker itulah rahmat dan kasih sayang Allah datang, Allah menghilangkan azab yang menghinakan mereka. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

“Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, kemudian imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka hingga waktu tertentu.” (QS. Yunus/10: 98)

Azab bagi kaumnya telah hilang, sedangkan Nabi Yunus masih meneruskan perjalanannya, dan berlayar dengan sebuah kapal.

Sewaktu Nabi Yunus menumpang kapal bersama orang banyak, tiba-tiba di tengah pelayaran datanglah angin angin ribut yang hampir menenggelamkan kapalnya. Para awak kapal dan para penumpang menjadi gelisah, sambil berkata, “Sesungguhnya diantara kita ada orang yang berdosa.” Kemudian mereka bermusyawarah untuk mengadakan undian. Barang siapa yang kalah dalam undian itu, dialah yang akan dilemparkan dari kapal ke laut, demi menjaga keselamatan semua penumpang.

Setelah diadakan undian, ternyata jatuh pada Nabi Yunus. Padahal mereka mengetahui jika Nabi Yunus yakni seorang yang saleh. Sehingga mereka tidak yakin dengan hasil undian itu. Kemudian mereka mengulang undian kembali, dan tetap jatuh pada Nabi Yunus. Namun mereka menolak hasil undian itu, kemudian mengulang undian hingga tiga kali dan ternyata hasil undian itu pun tetap sama, jatuh pada Nabi Yunus.

Kemudian Nabi Yunus menceburkan diri ke dalam laut, dan Allah mengutus ikan Hut (paus) yang besar untuk menelannya. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an:

“Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul, (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” (QS. As-Shaffat/37: 139-142)

Ketika ikan Hut menelan Nabi Yunus, Allah memperlihatkan wangsit kepada ikan Hut supaya tidak menyakitinya. Nabi Yunus membisu di dalam perut ikan Hut, ia sadar jika masih hidup, kemudian Nabi Yunus menyungkur (bersujud) kepada Allah dan berdoa, “Ya Allah, tidak ada ilahi melainkan Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh saya ini orang yang aniaya (berbuat dosa) dan saya tidak sabar, sehingga saya melarikan diri dari kaumku sebelum ada wahyu-Mu. Ampunilah dosa kami wahai Tuhanku.” Begitulah doa Nabi Yunus, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an:

“Dan (ingatlah kisah) fiun-Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, kemudian dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, saya termasuk orangorang yang zalim.” Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orangorang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya'/21: 87-88)

Makam Nabi Yunus as.


Nabi Yunus Keluar dari Perut Ikan

Ketika Tuhan telah mengabulkan doa Nabi Yunus, maka keluarlah Nabi Yunus dari perut ikan atas izin Allah, dalam keadaan sakit dan lemah, badannya kurus, tak berdaya, alasannya yakni terlalu usang di dalam perut ikan, dan sekiranya ia bukan rasul Allah yang banyak berzikir, pasti ia mati dalam perut ikan itu. Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an:

“Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, pasti dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) hingga Hari Berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. As-Shaffat/37: 143-146)

Kemudian Nabi Yunus keluar dari perut ikan Hut dalam keadaan sakit dan lemah. Maka Allah menumbuhkan diatasnya sebuah pohon yang rindang dari jenis pohon labu yang menaunginya dari terik matahari.

Demikianlah keadaan Nabi Yunus untuk beberapa dikala lamanya, hingga pulih kembali kesehatannya, hilang kekhawatirannya dan damai jiwanya.

Kemudian Allah memerintahkan supaya kembali kepada kaum yang ditinggalkannya. Dalam perjalanan pulang ia bertemu seorang penggembala, kemudian ia bertanya kepadanya, “Bagaimana kabar orang-orang yang ada di kampung?”

Si penggembala itu menjawab, “Kabar baik, mereka hidup kondusif dan tenteram, alasannya yakni mereka telah bertobat kepada Allah, ketika mereka melihat azab akan turun. Mereka mengharapkan rasul cepat kembali kepada mereka untuk memimpinnya.”

Mendengar kabar itu Nabi Yunus gembira, seraya berkata, “Aku inilah Yunus yang menjadi rasul Allah.”

Kemudian penggembala itu pergi kepada kaumnya, mengabarkan kedatangan Nabi Yunus. Kaumnya sangat bangga sekali atas kedatangan Nabi Yunus itu, dan Nabi Yunus tetap di sisi mereka beberapa tahun lamanya, sebagaimana firman Allah:

“Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih, sehingga mereka beriman, alasannya yakni itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.” (QS. As-Shaffat/37: 147-148)


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Ilyasa’ (Putra Angkat Nabi Ilyas)

Nabi Ilyasa' yaitu anak angkat Nabi Ilyas. Ayah Nabi Ilyasa' berjulukan Ukhtub bin Fanhaz bin Izar. Sejak menjadi anak angkat Nabi Ilyas, Ilyasa' menjadi pengikut setia Nabi Ilyas dan sering menemani Nabi Ilyas dalam melakukan kiprah dakwah, terutama saat Nabi Ilyas menginjak usia tua. Beliau diangkat menjadi rasul sebagaimana firman Allah:

“Dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain (pada masanya).” (QS. Al-An’am/6: 86)

Sepeninggal Nabi Ilyas, Allah swt. mengangkat Ilyasa' menjadi nabi dan rasul, meneruskan kiprah dakwah ayah angkatnya kepada kaum Bani Israil yang gemar menyembah berhala. Nabi Ilyasa' juga memperlihatkan peringatan berupa bahaya azab dari Allah swt., apabila kaumnya tidak mau meninggalkan kekufuran dan kemusyrikan.



Pada zaman Nabi Ilyasa' as. rakyatnya makmur dan hidup aman, sebab taat kepada perintah dan aliran Nabi Ilyasa'.

Setelah Nabi Ilyasa' wafat, umatnya (Bani Israil) meninggalkan agamanya yakni mengambil jalan yang menyimpang dari aliran agama yang dibawa oleh Nabi Ilyasa'. Makin hari kekufuran mereka makin bertambah, sehingga Allah melenyapkan dari mereka nikmat dan kesenangan. Kemudian pada zaman inilah Nabi Yunus as. lahir.


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Ilyas As. (Selalu Diancam Dibunuh Oleh Bani Israil)

Nabi Ilyas as. yakni keturunan Nabi Harun yang ke-4. Ia yakni putra Yasin bin Fanhaz bin Izar bin Harun. Ia diutus Allah kepada kaum Bani Israil yang kufur, yaitu penduduk negeri Baalbek, sebuah kawasan di Libanon. Mereka suka menyembah berhala yang namanya “Ba’al”.

Nabi Ilyas menyeru kepada kaum Bani Israil semoga meninggalkan Ba’al dan menyembah Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an:

“Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kau tidak bertakwa? Patutkah kau menyembah Ba’l dan kau tinggalkan (Allah) sebaik-baik pencipta, (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?” (QS. As-Shaffat/37: 123-126)

Kaum Bani Israil selalu mendustakan ajakan Nabi Ilyas dan selalu durhaka kepada Allah, maka Allah mendatangkan azab berupa kemarau panjang selama tiga tahun berturut-turut, sehingga binatang ternak mereka banyak yang mati kelaparan serta tanam-tanaman mati kekeringan.

Adapun Nabi Ilyas selalu bersembunyi alasannya yakni dia takut dibunuh oleh kaumnya yang jahat dan makan sedapatnya.

Kalau kaumnya menerima masakan di dalam sebuah rumah, mereka berkata, “Wah rumah ini sudah dimasuki Ilyas.”

Pada suatu ketika Nabi Ilyas telah masuk rumah seorang perempuan yang memiliki seorang anak pria namanya Ilyasa’ dan anak itu beriman kepada Nabi Ilyas, kesannya anak itu dibawanya ke mana dia pergi.

Makam Nabi Ilyas as.


Setelah kaumnya yang durhaka itu benar-benar mencicipi siksaan dan kesengsaraan, barulah mereka insyaf, kemudian mendatangi Nabi Ilyas meminta untuk memohonkan ampun kepada Allah semoga mereka terhindar dari ancaman kelaparan.

Kemudian Nabi Ilyas berdoa kepada Allah, “Ya, Tuhanku! Hilangkanlah dari mereka ancaman kelaparan yang telah mengancam mereka, mudah-mudahan mereka menjadi orang yang bersyukur kepada Engkau.”

Tuhan mengabulkan doa Nabi Ilyas, kemudian hujan turun dan tanah ladang menjadi subur serta binatang-binatang berkembang biak dan menurunkan anak-anaknya yang banyak.

Setelah mereka mendapatkan rahmat dan karunia Allah berupa kemakmuran, kemudian mereka lupa akan rahmat-Nya, dan mereka kembali durhaka, bahkan keingkaran mereka melebihi dari kala yang lalu.

Kemudian mereka disiksa lagi oleh Allah dengan siksaan yang lebih dahsyat. Nabi Ilyas dan Ilyasa' sudah pergi lebih dahulu sebelum azab Allah yang diberikan kepada mereka datang. Nabi Ilyas dan Ilyasa'terlepas dari siksaan itu, alasannya yakni mereka orang yang beriman kepada Allah.


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Sulaiman As. (Nabi Yang Mempunyai Banyak Mukjizat)

Nabi Sulaiman as. keturunan Nabi Ibrahim yang ke-14, artinya Nabi Sulaiman anak Nabi Dawud as. Setelah Nabi Dawud meninggal Nabi Sulaiman menggantikan ayahnya, sebagaimana nabi-nabi yang lain. Nabi Sulaiman dikarunia mukjizat dari Allah swt., antara lain:

1.) Beliau sanggup pergi ke mana-mana dengan mengendarai angin.

2.) Beliau sanggup memerintah jin.

3.) Beliau mengetahui bahasa-bahasa makhluk selain manusia, menyerupai bahasa-bahasa binatang.

4.) Beliau raja dan nabi yang terkaya, mempunyai kekayaan yang berlimpah-limpah, terdiri dari segala logam dan permata yang serba mahal. Istananya berkilau-kilauan penuh bertaburan intan permata.

5.) Beliau populer adil, bijaksana, cerdas sebab ilmunya. Pengetahuannya ihwal bahasa binatang-binatang dinyatakan dalam Al-Qur'an:

“Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, biar kau tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” Maka dia (Sulaiman) tersenyum kemudian tertawa sebab (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah saya ide untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan biar saya mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, dan masukkanlah saya dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml/27: 18-19)

Ketika sedang melaksanakan perjalanan bersama rombongan, Nabi Sulaiman yang tengah berada di wilayah Yaman merasa kehausan. Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan burung Hud Hud untuk mencari sumber air, tetapi sehabis dinantikan sekian usang burung Hud Hud tak kunjung kembali. Karenanya Nabi Sulaiman murka dan berujar, “Pasti akan kuhukum ia dengan eksekusi yang berat atau kusembelih ia, kecuali kalau ia tiba kepadaku dengan alasan yang jelas, maka akan saya maafkan!” Beberapa ketika kemudian datanglah burung Hud Hud, kemudian berkata, “Maafkanlah saya yang Rasulullah! Aku telah tersesat di kawasan yang jauh. Aku telah mengetahui sesuatu yang tidak engkau ketahui. Aku membawa informasi benar dan mempunyai bukti ihwal suatu negeri yang diperintah oleh seorang ratu berjulukan Bilqis. Ia telah dianugerahi kekuatan dan nikmat yang banyak, namun mereka ingkar atas nikmat yang diberikan oleh Allah swt., tidak beriman dan tidak menyembah-Nya, tetapi mereka menyembah dan bersujud pada matahari, dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka kesesatan itu.

Mendengar laporan Hud Hud, hilanglah murka Nabi Sulaiman, sebab tertarik mendengar penjelasannya. Kemudian Nabi Sulaiman menulis sepucuk surat kepada Ratu Bilqis yang berisi seruan, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Nabi Sulaiman mengutus burung Hud Hud untuk memberikan suratnya kepada Ratu Bilqis. Burung Hud Hud membawa surat itu, setibanya di negeri Saba, burung Hud Hud terus menjatuhkan surat itu dan kebetulan Ratu Bilqis sendiri yang menerimanya. Oleh Ratu Bilqis surat Sulaiman dibicarakan dalam rapat, dan sebagian penerima rapat itu menyetujui untuk mengalah kepada Nabi Sulaiman, sedang sebagian yang lain tidak mau mengalah dan mendesak biar melawan Sulaiman saja. Ratu Bilqis berkata, “Perang bisa saja! Namun selagi ada jalan damai, mengapa kita harus berperang. Sedangkan Nabi Sulaiman itu tidak mengajak berperang.” Pendapat Ratu Bilqis itu diterima. Kemudian ia mengutus beberapa pembesarnya untuk menyerahkan hadiah kepada Nabi Sulaiman, untuk mengetahui reaksi dan kekuatan Nabi Sulaiman.

Utusan Ratu Bilqis Menghadap Nabi Sulaiman

Burung Hud Hud memberitakan, kalau Ratu Bilqis akan mengirimkan utusan untuk menghadap Nabi Sulaiman. Kemudian datanglah utusan Ratu Bilqis. Alangkah herannya mereka. Tidak diduga sedikit pun bahwa Nabi Sulaiman sekaya itu. Utusan Ratu Bilqis menghadap Nabi Sulaiman seraya menyerahkan hadiah dari Ratu Bilqis kepadanya.

Nabi Sulaiman berkata kepadanya, “Apakah tuan-tuan akan memberi harta kepadaku? Maaf tuan-tuan, saya tidak memerlukan hadiah! Apa yang Allah karuniakan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah karuniakan kepadamu, tetapi tuan-tuan merasa gembira dengan hadiah itu. Kembalilah tuan-tuan, bawalah hadiah ini, katakan kepada Ratu Bilqis, bahwa saya memerlukan Ratu Bilqis dan rakyatnya menghentikan menyembah matahari. Sembahlah Tuhan Allah Yang Maha Esa. Kalau perintahku tidak dilaksanakan kami niscaya akan mendatangi kalian dengan bala tentara yang kalian tidak bisa melawannya, dan akan kami usir kalian dari negeri Saba secara hina dan kalian akan menjadi tawanan yang hina dina.”

Kembalilah para utusan itu ke negeri Saba, diceritakan kepada Ratu Bilqis segala sesuatu mengenai Nabi Sulaiman, dan memberikan pesannya. Mendengar informasi itu, Ratu Bilqis berkemas-kemas untuk menghadap Nabi Sulaiman bersama pembesar-pembesar kaumnya.

Ratu Bilqis Menemui Nabi Sulaiman as.

Nabi Sulaiman telah mengetahui keberangkatan Ratu Bilqis untuk menemuinya. Maka Nabi Sulaiman ingin memperlihatkan kepada Ratu Bilqis sebagian mukjizat yang Allah lebihkan untuknya, sehingga hal itu menjadi bukti atas kenabiannya.

Kemudian Nabi Sulaiman berkata kepada para pembesarnya, “Siapakah di antara kau yang sanggup membawa singgasana Bilqis kepadaku sebelum mereka tiba kepadaku menyerahkan diri?” Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”

Maka seketika itu pula Nabi Sulaiman melihat singgasana terletak di hadapannya, Nabi Sulaiman berkata, “Ubahlah untuknya singgasananya, kita akan melihat apakah Bilqis mengenal atau tidak mengenal istananya lagi.”

Ketika Ratu Bilqis telah hingga di hadapan Nabi Sulaiman, bertanyalah Nabi Sulaiman kepadanya, “Serupa inikah singgasanamu?”. Jawab Ratu Bilqis, “Seakan-akan menyerupai itulah singgasanaku.”. Berkata Sulaiman, “Betul ini singgasanamu, saya bawa kemari dengan mudah, sebab Allah telah memperlihatkan pengetahuan kepada kami dan kami tunduk kepada-Nya.” Lalu Ratu Bilqis dipersilakan masuk ke dalam istana yang lebih dalam lagi, yang terbuat dari beling yang putih bersih, dan di bawahnya ada air mengalir. Ketika Ratu Bilqis lewat di tempat itu, disingkapkannya kainnya dari betisnya, sebab mengira lantai mahligai itu bak air, dan ia takut kalau-kalau ia basah, maka Nabi Sulaiman berkata kepadanya, “Ini bukan air, tetapi mahligai ini terbuat dari beling yang berkilau-kilauan.” Berkata Ratu Bilqis, “Ya Tuhanku, sungguh saya telah menganiaya diriku dan saya berserah diri bersama Nabi Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Makam Nabi Sulaiman as.


Nabi Sulaiman Wafat

Ketika Allah swt. menetapkan simpulan hidup atas Nabi Sulaiman tidak ada makhluk lain yang mengetahuinya, termasuk para jin. Kematiannya gres disadari sehabis tongkat yang dipegangnya ringkih sebab dimakan rayap yang mengakibatkan Nabi Sulaiman jatuh tersungkur. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an:

“Maka ketika Kami telah menetapkan simpulan hidup atasnya (Sulaiman), tidak ada yang memperlihatkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang mistik tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba'/34: 14)

Demikianlah simpulan hidup Nabi Sulaiman, yang berdasarkan riwayat dia meninggal sedang mengawasi jin-jin yang bekerja untuknya. Menurut riwayat lain dia sedang mengawasi mereka yang membangun Masjid Aqsha (Baitulmaqdis). Setelah masjid selesai dia terjatuh dari kursinya.


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Dawud As. (Raja Yang Berakal Dan Bersuara Merdu)

Nabi Dawud as. ialah generasi ke-13 dari keturunan Nabi Ibrahim. Dawud termasuk keluarga Bani Israil. Setelah Nabi Musa wafat, Bani Israil tidak mempunyai raja atau pemimpin yang tegas dan mulia, sehingga selama bertahun-tahun semua urusan dan pemerintahan di pegang oleh para hakim.

Pada masa kekuasaan para hakim, Bani Israil diliputi kehinaan, kerendahan, keterbelakangan dan menjadi bangsa yang selalu menjadi bulan-bulanan bangsa lain.

Keadaan ini balasannya mendorong pemuka-pemuka Bani Israil menghadap Samuel — ia seorang hakim— meminta untuk dipilihkan seorang raja, yang sanggup mempersatukan rakyat untuk memerangi musuh. Samuel mengetahui abjad kaumnya, maka ia bertanya kepada mereka, “Bila nanti diwajibkan atasmu berperang, kau pasti tidak mau berperang?” Mereka mengingkari hal itu dan berkata, “Bagaimana mungkin kami tidak mau berperang untuk mengembalikan hak-hak kami, sedang para musuh telah mengusir kami dari negeri kami, mereka telah memisahkan kami dari bawah umur kami!”

Ternyata benar apa yang diduga Samuel. Ketika Allah memnuhi harapan mereka dan mewajibkan berperang, ternyata mereka menolak dan enggan berperang, kecuali sekelompok kecil. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

“Tidakkah kau perhatikan para pemuka Bani Israil sehabis Musa wafat, dikala mereka berkata kepada seorang nabi mereka, ‘Angkatlah seorang raja untuk kami, pasti kami berperang di jalan Allah.’ Nabi mereka menjawab, ‘Jangan-jangan kalau diwajibkan atasmu berperang, kau tidak akan berperang juga?’ Mereka menjawab, ‘Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) bawah umur kami? Tetapi dikala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.’” (QS. Al-Baqarah/2: 246)

Kemudian Samuel memberitakan kepada Bani Israil, bahwa Allah mengabulkan harapan mereka dan mengangkat Thalut sebagai rajanya. Bani Israil tidak mau mendapatkan keterangan nabinya, seraya katanya, “Bagaimana Thalut akan menjadi raja kami, dia lebih rendah dari kami, sedangkan kami mempunyai kekayaan yang melimpah-limpah.”

Kemudian Thalut tetap menjadi raja, dan sehabis menjadi raja keluarlah Thalut bersama bala tentaranya untuk memerangi orang-orang durhaka (Jalut). Di kala itu Thalut berkata, “Kita akan melewati sebuah sungai, dengan sungai itu Allah akan menguji kamu, untuk membedakan mana yang taat dan yang ingkar. Maka barang siapa yang tidak minum air sungai itu ia termasuk pengikutku, dan siapa yang minum air itu mereka tidak termasuk orang-orang yang beriman.”

Kemudian apa yang terjadi? Mereka minum air sungai itu, sebab mereka sangat haus. Sedangkan yang beriman tetap patuh tidak minum air itu, kecuali seteguk saja sebagai pelepas haus.

Sewaktu Thalut melewati sungai itu dan telah erat untuk berperang, mereka yang tipis imannya mundur dari medan perang dan yang berpengaruh imannya kepada Allah tiada takut sedikit pun berhadapan dengan musuh yang berpengaruh walaupun mereka hanya sedikit. Firman Allah dalam Al-Qur'an:

“Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah/2: 249)

Dalam peperangan ini Jalut mati terbunuh oleh salah seorang bala tentara yang berjulukan Dawud, kemudian tentara Jalut menyerah, dan Dawud diangkat menjadi raja.

Makam Nabi Dawud as.


Mukjizat Nabi Dawud as.

Nabi Dawud as. populer dengan suaranya yang merdu dan tak ada yang menandinginya. Inilah karunia dan rahmat Allah yang dicurahkan kepada Dawud, dan inilah mukjizat yang dimiliki Nabi Dawud as.

Karena bagusnya bunyi beliau, maka kalau ia membaca kitab Zabur dengan nyanyian yang merdu, maka kalau terdengar oleh orang-orang yang sakit menjadi sembuhlah mereka, juga air dan angin pun menjadi tenang, burung-burung serta bukit-bukit turun memuji Allah. Demikian pula besi sanggup menjadi lunak dan ia sanggup menciptakan benda-benda yang majemuk yang ia kehendaki dengan izin Allah. Firman Allah dalam Al-Qur'an:

“Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud.” Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kau kerjakan.” (QS. Saba'/34: 10-11)

Kitab sucinya ialah Zabur, sebagaimana firman Allah:

“Dan sungguh, Kami telah menunjukkan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.” (QS. Al-Isra’/17: 55)

Beliau meninggal dalam usia 100 tahun lebih 6 bulan, dan dimakamkan di Baitulmaqdis.


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”

Kisah Nabi Musa Dan Nabi Harun (Dua Pemuka Bani Israil)

Nabi Musa ialah putra Imran bin Yashhar, bersaudara dengan Nabi Harun as. yaitu adik kandung. Nabi Musa as. ialah keturunan Lawi, salah seorang putra Nabi Ya‘qub yang hijrah ke Mesir. Di Mesir keturunan Nabi Ya‘qub bertambah banyak, selama empat ratus tahun lebih, jumlah mereka mencapai ratusan ribu orang.

Nabi Musa as. dilahirkan pada zaman Raja Fir‘aun (Ramses II) menguasai negeri Mesir. Waktu itu Raja Fir‘aun memerintahkan, setiap bayi pria Bani Israil yang lahir harus dibunuh. Perintah tersebut dikeluarkan lantaran takwil jago nujum terhadap mimpi Raja Fir‘aun yang menyatakan bahwa akan lahir seorang bayi pria dari Bani Israil, yang sehabis sampaumur akan menghancurkan kekuasaan Raja Fir‘aun.

Pada waktu itu seorang perempuan dari Bani Israil yang berjulukan Yukubat melahirkan seorang bayi laki-laki. Agar tidak dibunuh, Allah mengilhamkan kepada Yukubat, supaya ia menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil. Kemudian bayi itu dimasukkan ke dalam peti, kemudian dihanyutkan ke Sungai Nil.

Dengan kodrat Allah, peti tersebut ditemukan oleh istri Fir‘aun yang berjulukan Asiyah, sewaktu ia mandi di tepi Sungai Nil. Asiyah segera menggendong bayi itu ke istananya. Setelah melihat bayi itu, Fir‘aun mengambil pedangnya. “Apa yang akan tuanku lakukan?” tanya Asiyah. “Dia akan kubunuh!” kata Fir‘aun. “Masa, bayi tak berdaya ini engkau takuti? Apalagi yang mengasuhnya kita. Ada-ada saja tuanku,” kata Asiyah kepada suaminya. Kitakan belum memiliki anak! Sebaiknya bayi ini kita angkat sebagai anak.” Fir‘aun kemudian memberi nama Musa (Mu = air; Sa = Pohon).

Dinamakan demikian, lantaran Musa ditemukan diantara air dan pohon. Akhirnya tiba masa ketika ingin menyusu. Musa menangis. Asiyah memerintahkan mencari wanita-wanita yang sanggup menyusukan Musa kecil ini. Namun setiap tiba perempuan yang ingin menyusukannya, Musa kecil ini selalu menolak dan menangis terus tidak henti-hentinya.

Akhirnya ditemukan seorang perempuan Yukubad namanya. Kepadanya ditawarkan untuk sanggup menyusukan anak bayi. Yukubad ingat akan anaknya, kemudian katanya, “Aku bersedia menyusukannya.” Yukubad dibawa ke istana oleh Haman kepala rumah tangga istana Fir‘aun. Di istana Musa dicobanya disusukan dan ia menyusu dengan lahap. Kemudian gembiralah Asiyah istri Fir‘aun ini. Musa semakin besar. Ia telah pintar berjalan. Umurnya waktu itu kira-kira 3 tahun. Asiyah semakin sayang kepadanya. Begitu pula Fir‘aun. Pada suatu hari Fir‘aun menggendong Musa, tiba-tiba janggut Fir‘aun direnggut oleh Musa kecil. Ia berteriak kesakitan. “Wahai istriku! Barangkali inilah anak yang akan menjatuhkan saya dari kerajaanku!” Musa diletakkannya. Ia segera mengambil pedang hendak membunuhnya. Istrinya tahu seraya katanya, “Sabarlah tuanku! Anak sekecil ini tahu apa! Dia kan belum berakal!” “Belum pintar katamu, tetapi janggutku direnggut, kepalaku terasa mau pecah lantaran sakit!”

Kebetulan di bersahabat tempat itu ada bara api, dibiarkan Musa berjalan ke bersahabat bara api itu. Setelah dekat, bara itu diambilnya dan eksklusif dimasukkan ke mulutnya. Musa menjerit lantaran panas. Coba lihat dan perhatikan tuanku, kalau dia telah berakal, pasti bara itu tidak dimakannya, kata Asiyah sambil memeluk Musa. Musa masih menangis, lantaran menggigit bara panas, hal ini mengganggu pengecap Musa untuk berbicara hingga besar.

Sebagai putra kesayangan Fir‘aun di mana-mana Musa dihormati orang. Ia dibolehkan pergi ke mana-mana hingga di luar istana pun. Pada suatu hari Musa berjalan-jalan di kota, dan penduduknya tidak mengenal Musa, kemudian ia bertemu dengan dua orang yang sedang berkelahi, salah seorang di antaranya ialah orang Bani Israil, sedangkan yang lainnya lagi ialah bangsa Qibti. Musa berusaha mendamaikan antara keduanya, tetapi orang Qibti (Mesir) tidak mau berdamai, kemudian Musa memukulnya sekali pukul, dan seketika orang itu mati. Musa sangat meratapi insiden ini, kemudian berdoa kepada Tuhan sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an:

“Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya saya telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashash/28: 16)

Kemudian datanglah dengan sekonyong-konyong kepada Musa seorang lelaki dengan memberitakan, “Hai Musa! Sesungguhnya pembesar-pembesar Mesir telah setuju hendak membunuh kamu, lantaran mereka mengetahui rahasiamu (membunuh orang), maka lekaslah lari dari negeri ini. Sesungguhnya saya hanya memberi peringatan saja.” Lalu keluarlah Musa dari kota dengan penuh kekhawatiran kalaukalau ada yang mengetahuinya, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an:

“Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada  (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah saya dari orang-orang yang zalim itu.’ Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, ‘Mudah-mudahan Tuhanku memimpin saya ke jalan yang benar.’” (QS. Al-Qashash/28: 21-22)

Setelah ia meninggalkan negeri Mesir, kemudian ke manakah ia akan pergi, di tempat manakah yang akan dituju. Padahal ia belum tahu kawasan yang sanggup dijadikan perlindungan, maka larilah ia berdasarkan kakinya saja tidak tentu arahnya. Di waktu dia berlari meninggalkan Mesir, sering menoleh ke belakang, lantaran serasa ada orang yang membuntutinya, dan pada sore harinya dia berhenti di bawah pohon kayu di kawasan Madyan seraya berdoa kepada Allah, semoga Allah memperlihatkan jalan yang benar.”

Makam Nabi Musa as.


Musa Bertemu dengan Nabi Syu‘aib as.

Sewaktu Musa berhenti berteduh di bawah pohon, dia melihat serombongan orang yang akan meminumkan ternaknya (kambing), lantaran di sana terdapat mata air. Untuk mendapatkan air mereka saling berebutan, dan di antara mereka terdapat dua anak gadis yang sedang menunggu hingga selesainya orang pria yang berjejal-jejalan itu. Musa menolong dua gadis yang bersaudara itu untuk meminumkan kambingnya, dan sehabis selesai dia pun duduk di tempat semula.

Kemudian salah seorang dari kedua perempuan itu tiba kepada Musa, berjalan perlahan-lahan dengan perasaan malu, katanya, “Bapakkumengundang tuan lantaran ia hendak membalas kebaikan tuan, meminumkan kambing kami. Tatkala Musa tiba di hadapan ayah anak gadis itu (Nabi Syu‘aib), kemudian Musa menceritakan kisahnya dari awal hingga alhasil ia berjumpa Nabi Syu‘aib. Maka sahut Nabi Syu‘aib, janganlah engkau takut, engkau terlepas dari kaum yang zalim.”

Selesai pembicaraan Musa dengan Nabi Syu‘aib, kemudian anak perempuannya minta kepada ayahnya supaya ia dijadikan sebagai pekerja di rumahnya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

“Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, ‘Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan sanggup di percaya.’” (QS. Al-Qashash/28: 26)

Demikianlah Musa bertemu dengan Nabi Syu‘aib, Musa diminta Nabi Syu‘aib untuk bekerja sebagai pekerja yang setiap harinya menggembalakan kambing Nabi Syu‘aib selama sepuluh tahun. Tidak usang mengabdikan diri, kemudian Nabi Syu‘aib mengambil dia sebagai menantunya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

“Dia (Syu‘aib) berkata, ‘Sesungguhnya saya bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan kalau engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu ialah (suatu kebaikan) darimu, dan saya tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.’” (QS. Al-Qashash/28: 27)

Akhirnya Musa menikah dengan salah seorang anak perempuan Nabi Syu‘aib as. lantaran perjanjian yang telah ditentukan itu telah dijalankan dan dilaksanakan oleh Musa as.

Musa Kembali ke Mesir

Selama 10 tahun Musa bekerja untuk Nabi Syu‘aib. Setelah selesai, Musa ingin bertemu dengan keluarganya di Mesir. Atas izin mertuanya Musa berangkat disertai istrinya ke Mesir. Dalam perjalanannya Musa menuju arah selatan hingga tiba di bukit Sinai. Pada suatu malam, Musa telah tersesat jalannya dan tidak tahu arah. Dalam keadaan menyerupai ini, ia melihat nyala api dari kejauhan dan ia bermaksud untuk mengambil api itu untuk menerangi ia berjalan, tetapi sehabis hingga di tempat itu, bukan main herannya melihat api itu, lantaran api itu menempel di sebuah pohon, tetapi pohon itu tidak terbakar. Musa mendekati api itu dan sehabis di tempat itu terdengarlah olehnya bunyi panggilan yang tak sanggup diserupakan dengan bunyi apa pun dari sebelah kanan pohon zaitun, yaitu:

“Hai Musa! Aku ini Allah, Tuhanmu! Engkau berada di lembah suci Tuwa! Tanggalkanlah sepatumu! Hari ini Aku angkat engkau menjadi rasul-Ku. Karena itu dengarkanlah baik-baik wahyu-Ku. Aku ialah Allah, tidak ada tuhan melainkan Aku. Karena itu jalankanlah perintah-perintah-Ku! Kerjakan sembahyang, supaya engkau selalu ingat kepada-Ku. Kiamat pasti terjadi, Aku sembunyikan tanda-tandanya, supaya tiap-tiap diri nanti dinilai amal perbuatannya. Jangan kau ragu-ragu ihwal ini. Jangan kau ikuti paham orang-orang yang tak beriman, yang akan mencelakakan engkau kelak.”

Kemudian Musa membuka sepatunya, hatinya berdebar-debar, tiba-tiba terdengar bunyi lagi, “Lemparkanlah tongkat itu!”. Lalu tongkatnya dilemparkan, tiba-tiba tongkat itu menjelma seekor ular besar, memburu ke arah Musa, Musa lari ketakutan. Tuhan berfirman kepadanya, “Jangan takut hai Musa, sesungguhnya seorang yang telah diutus menjadi rasul tidak perlu takut. Peganglah kembali, pasti ia kembali menyerupai semula menjadi tongkat.”. Musa memegang ular itu, kemudian kembali menjadi tongkat.

Kemudian Allah berfirman kepada Musa, “Kepitlah tanganmu ke ketiakmu. Lalu Musa mengapitkan tangannya, kemudian tangannya mengeluarkan cahaya putih cemerlang. Kalau engkau merasa takut kepitlah tanganmu, engkau pasti tidak akan gentar menghadapi siapa pun! Nah kini pergilah kau ke Mesir. Sesungguhnya Fir‘aun sudah durhaka melampaui batas.” Inilah mukjizat Nabi Musa, yaitu tongkat sanggup menjadi ular dan tangannya mengeluarkan cahaya putih cemerlang.

Nabi Musa as. dan Nabi Harun as. Menghadapi Fir‘aun

Setelah mendapatkan wahyu dari Allah swt., Nabi Musa menerima perintah dari Tuhannya pergi menghadap Fir‘aun untuk memberikan risalah ilahi kepadanya, lantaran merasa memiliki kekuasaan yang besar di Mesir, sehingga Fir‘aun makin usang makin sombong, sewenangwenang, bahkan menganggap dirinya sebagai tuhan.

Untuk menghadapi Fir‘aun, Nabi Musa as. memerlukan keberanian, maka Nabi Musa as. memohon kepada Allah supaya melapangkan dadanya, terang dan fasih dalam berbicara, serta mengakibatkan Harun (saudaranya) sebagai pembantunya dalam memberikan risalah-Nya yang berat ini. Kemudian Allah mengabulkan semua permohonannya. Sebagaimana firman-Nya:

“Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh saya telah membunuh seorang dari golongan mereka, sehingga saya takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku, sungguh saya takut mereka akan mendustakanku.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Kami akan menguatkan engkau (membantumu) dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak akan sanggup mencapaimu, (berangkatlah kau berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kau berdua dan orang yang mengikuti kau yang akan menang.’” (QS. Al-Qashash/28: 33-35)

Setelah permohonan Nabi Musa as. dikabulkan Allah, Nabi Musa as. dan Nabi Harun as. menemui Fir‘aun. Fir‘aun terkejut melihat kedatangan mereka. Nabi Musa as. mengingatkan Fir‘aun bahwa ia bukan tuhan, serta memintanya untuk membebaskan Bani Israil. Mendengar perkataan Nabi Musa, Fir‘aun bukan main marahnya dan bermaksud memenjarakannya.

Kemudian Nabi Musa memperlihatkan tanda kebenaran dakwahnya dengan memperlihatkan mukjizat yang diberikan Allah swt. supaya Fir‘aun percaya kepada kenabiannya. Untuk menghadapi mukjizat Nabi Musa, Fir‘aun mengumpulkan tukang-tukang sihir kerajaan, untuk bertanding melawan Musa di suatu arena yang telah ditentukan waktunya dan tempatnya. Di antara mereka ada yang melemparkan tali, tongkat, maka berubahlah tongkat dan tali itu menjadi ular yang menjalar. Lalu Musa merasa takut, alasannya sudah dikelilingi ular-ular yang berbisa. Lalu Tuhan memerintahkan kepada Musa dengan firman-Nya:

“Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, pasti ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah muslihat pesihir (belaka). Dan tidak akan menang pesihir itu, dari mana pun ia datang.” (QS. Thaha/20: 69)

Kemudian semua jago sihir itu tunduk sujud kepada Musa, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an:

“Lalu para pesihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, ‘Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.’” (QS. Thaha/20: 70)

Karena melihat tukang sihirnya telah beriman kepada Nabi Musa as. demikian pula istrinya (Asiyah), maka Fir‘aun bertambah marah, sehingga istrinya disiksa hingga mati, demikian juga orang-orang yang beriman kepada Tuhan Nabi Musa. Akhirnya Nabi Musa bersama orang-orang yang beriman lari dari Mesir, sehabis mereka tidak berdaya lagi di negeri Mesir, maka dikejarnya mereka itu hingga ke pantai Laut Merah, dan lautan pun menjadi jalan besar dan membelah menjadi dua untuk dilalui Nabi Musa beserta para pengikutnya. Sewaktu Fir‘aun dengan bala tentaranya mengejar dari belakang dan ketika mereka hingga di pertengahan laut, maka air maritim pun bertaut kembali menjadi satu, kemudian mereka karam semuanya, sebagaimana firman Allah:

“Kemudian Fir‘aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, tetapi digulung ombak maritim yang menenggelamkan mereka.” (QS. Thaha/20: 78)

Demikianlah keterangan ihwal berakhirnya Fir‘aun bersama bala tentaranya karam di Laut Merah.

Umat Nabi Musa Menyembah Sapi

Setelah Fir‘aun dan bala tentaranya tenggelam, Nabi Musa as. pergi ke Gunung Sinai mendapatkan wahyu dari Allah (Taurat) selama 40 malam. Nabi Musa meninggalkan umatnya dan menyerahkan penjagaan mereka kepada Nabi Harun as. Di sana Nabi Musa berpuasa selama 30 hari. Namun kemudian puasanya disempurnakan menjadi 40 hari. Dalam keadaan suci itu Nabi Musa mendengar firman Allah swt. secara langsung. Nabi Musa kemudian dikaruniai kitab Taurat, yang berisi nilai-nilai dan anutan hidup bagi umatnya.

Setelah lebih dari 30 hari Nabi Musa tidak juga kembali, Samiri tukang sihir belakang layar menciptakan sapi dari tanah yang disihir hingga sanggup bersuara. Kata Samiri kepada orang-orang yang di lingkungannya, “Hai kaumku! Tampaknya Musa takkan kembali lagi. Sekarang tidak ada gunanya kita menyembah Tuhan Musa. Lebih baik marilah kita sembah saja sapi ini. Kalian dengar, sapi ini sanggup berbicara! Inilah Tuhan yang sebenarnya!” Patung sapi inilah yang disembah oleh mereka, lantaran muslihat Samiri yang munafik.

Nabi Harun telah bersusah payah melarang mereka dari perbuatan mereka menyembah patung sapi itu, namun mereka tetap tidak mau mendapatkan pesan yang tersirat Nabi Harun, bahkan semakin keras tindakan Nabi Harun dalam perjuangan melarang mereka menyembah patung sapi itu, semakin keras pula mereka menentangnya.

Empat puluh hari kemudian Musa tiba kembali, apa yang dilihatnya, Bani Israil sangat tekun menyembah sapi dengan asyiknya, hatinya terasa terbakar. Ditegurnya Harun dengan katanya: “Hai Harun! Apa yang menghalangi engkau untuk mencegah mereka ketika engkau melihat mereka sesat? Apakah engkau tidak mengikuti aku, ataukah engkau mendurhakai perintahku.” Sahut Harun, “Hai anak ibuku! Janganlah engkau renggut jenggotku dan janganlah engkau tarik rambut kepalaku. Sesungguhnya saya takut bahwa engkau akan berkata, “Engkau telah adakan perpecahan dalam Bani Israil dan engkau tidak pelihara perkataanku.” (QS. Thaha/20: 94)

Musa berkata, “Bagaimanakah hal engkau ya Samiri?” Ia menjawab, saya melihat sesuatu yang mereka tidak lihat, oleh yang demikian saya genggam saja dari jejak rasul itu, lantas saya buang dia, lantaran begitulah saya diperintahkan oleh nafsuku.” (QS. Thaha/20: 95)

Kemudian Nabi Musa menyuruh mereka bertobat kepada Allah dan meminta ampunan kepada Allah lantaran tersesat. Allah swt. Maha Pengasih dan Penyayang dan memberi ampun kepada mereka atas kesalahannya, dengan jalan memerintahkan kepada mereka untuk membunuh diri sendiri, lantaran yang demikian lebih baik bagimu pada pandangan Allah yang mengakibatkan kamu.”

Kemudian Nabi Musa mengajarkan isi Taurat itu kepada mereka. Setelah itu Nabi Musa pergi mendapatkan Samiri seraya berkata, “Pergilah kau dari sini bersama pengikut-pengikutmu, patung sapi yang menjadi tuhanmu itu akan kubakar, kemudian akan kami hanyutkan ke dalam laut. Engkau dan pengikutmu pasti akan menerima siksa.”

Umat Nabi Musa Ingin Melihat Tuhan

Umat Nabi Musa sangat keras kepala, kekufurannya telah mendarah daging dan telah kuat yang menghunjam pada jiwanya, kalau mereka diseru untuk menyembah Tuhan, mereka menentang dengan berkata, “Hai Musa, perlihatkan kepada kami Tuhan itu, nanti kalau kami telah melihat akan beriman kepada-Nya.” Hal itu sebagaimana telah dinyatakan dalam Al-Qur'an:

“Dan (ingatlah) ketika kau berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kau menyaksikan. Kemudian, Kami membangkitkan kau sehabis kau mati, supaya kau bersyukur.” (QS. Al-Baqarah/2: 55-56)

Umat Nabi Musa Kehausan

Samiri dan pengikutnya lari meninggalkan Musa, dan ketika mereka dalam perjalanan mencari air ke sana kemari, mereka tidak mendapatkan air sehingga mereka kehausan. Akhirnya mereka tiba kepada Nabi Musa mengadukan halnya, dan mereka meminta tolong kepada Musa supaya memintakan air kepada Tuhan. Hal tersebut dinyatakan dalam Al-Qur'an:

“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, kemudian Kami berfirman, “Pukullah watu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah kau melaksanakan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah/2: 60)

Pada suatu hari Bani Israil minta diberi masakan berupa sayursayuran dan buah-buahan, kemudian Musa berdoa kepada Allah, kemudian Allah menawarkan Manna dan Salwa, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an:

“Dan Kami melindungi kau dengan awan, dan kami menurunkan kepadamu Mann dan Salwa” (QS. Al-Baqarah/2: 57)

Permintaan-permintaan mereka selalu dikabulkan Allah, tetapi mereka selalu durhaka kepada-Nya. Nabi Musa as. meninggal di Padang Tih dalam usia 120 tahun, sedang sebelumnya telah wafat lebih dahulu Nabi Harun as.


Wallahu A’lam


Sumber : Buku “Riwayat 25 Nabi dan Rasul”