Showing posts with label Kitab Kuning. Show all posts
Showing posts with label Kitab Kuning. Show all posts

Banyak Harta Bukanlah Bentuk Penghormatan Allah Kepada Hamba-Nya

“Apakah mereka menerka bahwa Kami menunjukkan harta dan bawah umur kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera menunjukkan kebaikan-kebaikan kepada me-reka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-Mu’minun: 55 – 56)

Banyaknya Harta dan Anak Bukan Penghormatan dari Allah terhadap Hamba-hamba-Nya

Kemudian Allah menjelaskan kekeliruan mereka mengenai asumsi bahwa kelapangan rezeki di dunia ialah tanda keridaan Allah terhadap mereka di akhirat. Apakah orang-orang yang terpedaya itu menerka bahwa harta dan anak yang Kami berikan kepada mereka itu merupakan penghormatan dan pengagungan dari Kami terhadap mereka? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya pertolongan ini tidak lain ialah perdaya semoga mereka karam dalam kemaksiatan dan semakin bertambah dosanya, sementara mereka menerka bahwa pertolongan itu ialah mereka segera diberi kebaikan. Mereka serupa dengan hewan yang tidak mempunyai kecerdasan dan perasaan, sampai sanggup berpikir apakah pertolongan itu merupakan perdaya atau mereka segera diberi kebaikan.



Senada dengan ayat diatas ialah firman Allah:

“Dan mereka berkata, ‘Kami mempunyai lebih banyak harta dan bawah umur (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab’.”(Saba': 35)

Firman-Nya juga:

“Maka janganlah harta dan bawah umur mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu ialah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia.” (At-Taubah: 55)

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya batas waktu tenggang yang Kami berikan kepada mereka hanyalah semoga dosa mereka semakin bertambah.” (Ali ‘Imran: 178)

Mengenai tafsiran ayat 55-56 diatas, Qatadah mengatakan, “Allah telah memperdaya suatu kaum dengan harta dan bawah umur mereka.” Wahai anak Adam, janganlah kau memandang insan dari segi harta dan anaknya, tetapi pandanglah mereka dari segi kepercayaan dan amal salehnya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah membagi adab di antara kalian sebagaimana membagi rezeki di antara kalian. Dan bahwasanya Allah memberi dunia kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai, tetapi tidak memberi agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Maka barang siapa diberi agama oleh Allah, berarti beliau telah dicintai oleh-Nya. Demi Tuhan Yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, tidak seorang hamba disebut muslim sebelum hati dan lisannya berserah kepada (Allah), dan tidaklah beliau disebut mukmin sebelum tetangganya merasa kondusif dari kejahatannya.” Para sobat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kejahatannya itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu penipuan dan kezalimannya.” (HR. Muslim)


Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi

Jihad Yang Sebenarnya

Ada tiga macam jihad, yaitu:

1.) Jihad melawan musuh yang tampak, ibarat melawan orang-orang kafir.

2.) Jihad melawan setan.

3.) Jihad melawan hawa nafsu, dan ini yang terberat. Baihaqi dan lain-lain meriwayatkan dari Jabir:

“Tentara perang telah tiba menghadap Rasulullah saw. Beliau bersabda, ‘Kalian telah tiba dengan kedatangan yang baik. Kalian telah tiba dari jihad yang paling kecil menuju jihad yang paling besar’. Beliau ditanya, ‘Apakah jihad yang paling besar itu?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu jihadnya seorang hamba dalam melawan hawa nafsunya’.”



Jihad yang dimaksud di sini meliputi ketiga macam tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh apa yang diriwayatkan dari Hasan bahwa beliau membaca ayat “Dan berjihadlah kau di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.(QS.Al-Hajj : 78) lalu berkata, “Sesungguhnya seseorang benar-benar berjihad di jalan Allah Ta‘ala, sekalipun beliau tidak mengayunkan pedang.”


Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi

Kisah Kesabaran Nabi Ayub As.

“dan (ingatlah kisah) Ayub, dikala ia menyeru Tuhannya: ‘(Ya Tuhanku), bergotong-royong saya telah ditimpa penyakit dan Engkau ialah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (QS. Al-Anbiya’ : 83)

Ingatlah info perihal Ayub dikala beliau berdoa —pada waktu itu beliau sedang dicoba dengan penyakit— kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, bergotong-royong saya telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Dalam doanya Ayub menggambarkan dirinya dengan sesuatu yang hasilnya beliau berhak menerima kasih sayang dan menyifati Tuhan dengan Maha Penyayang, tanpa menyebutkan dengan terang-terangan apa yang dimintanya. Hal ini menawarkan bahwa Tuhan Maha Mengetahui perihal keadaannya. Seakan Ayub berkata, “Sesungguhnya saya ialah orang yang berhak untuk diberi rahmat, sedang Engkau Yang Mahamulia dan Maha Pemurah, Engkaulah yang memberi rahmat itu. Oleh alasannya ialah itu, limpahkanlah kepadaku sebagian dari kemurahan dan rahmat-Mu itu, apa yang sanggup meluluskan hajatku dan menghilangkan penyakitku, lantaran bergotong-royong Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Gaya bahasa permohonan Ayub ini merupakan cara halus dan sangat bijaksana untuk ditempuh.



Diriwayatkan bahwa istrinya berkata kepadanya, “Sekiranya engkau berdoa kepada Allah, tentu hal itu akan lebih baik.” Ayub bertanya, “Berapa lamakah masa kita menikmati kesenangan?” Istrinya menjawab, “Delapan puluh tahun.” Ayub berkata, “Aku aib kepada Allah untuk memohon kepada-Nya, lantaran masa saya menderita cobaan ini belum sebanding dengan masa saya menikmati kesenangan.”


Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi

Ketika Nabi Dawud Dan Nabi Sulaiman Berbeda Pendapat

“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, saat keduanya memperlihatkan keputusan mengenai ladang, alasannya yakni (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu.” (QS. Al-Anbiya’ : 78)

Beberapa perawi menguraikan dongeng ini sebagai berikut: Dua orang lelaki tiba menghadap Nabi Dawud; salah seorang di antara mereka yakni pemilik tanaman, sedang yang lain yakni pemilik kambing. Pemilik flora berkata, “Orang ini telah melepaskan kambingnya ke tanamanku, sehingga tidak tersisa sedikit pun darinya.” Nabi Dawud berkata, “Pergilah, dan seluruh kambing itu menjadi milikmu.” Pemilik kambing berpapasan dengan Nabi Sulaiman, kemudian memberitahukan kepadanya keputusan yang telah diambil oleh Nabi Dawud mengenai kasus itu. Kemudian Nabi Sulaiman menghadap Nabi Dawud seraya berkata, “Wahai Nabi, bahwasanya keputusan mengenai kasus ini tidak ibarat yang telah engkau ambil.”

Nabi Dawud bertanya, “Lantas bagaimana?” Nabi Sulaiman menjawab, “Serahkan kambing-kambing itu kepada pemilik flora sehingga ia sanggup mengambil keuntungannya dari susu, bawah umur dan bulunya. Kemudian serahkan flora itu kepada pemilik kambing biar ia menggarap ladang sampai menjadi ibarat keadaan semula. Setelah itu, mereka saling mengembalikan hak milik: pemilik flora mengambil tanamannya, dan pemilik kambing mengambil kambingnya kembali.” Nabi Dawud berkata, “Ya, keputusannya ibarat yang kau putuskan.” Lalu Nabi Dawud tetapkan aturan dengan keputusan Nabi Sulaiman.



Sudut pandang pendapat masing-masing: Nabi Dawud melihat kemudaratan pada tanaman, kerugiannya sama dengan harga kambing-kambing, maka ia menyerahkan kambing-kambing itu kepada pelaku kerusakan. Sedangkan Nabi Sulaiman melihat dari sudut manfaat kambing dengan manfaat tanaman, maka ia tetapkan aturan ibarat demikian. Keputusan yang diambil oleh Nabi Dawud yakni menurut ijtihadnya, bukan dari wahyu, alasannya yakni kalau ia tetapkan aturan dengan wahyu, tentu ketetapan itu tidak akan sanggup diubah lagi.


Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi

Pandanglah Orang Lain Lebih Baik Dari Dirinya

Jangan sombong!!!

Jika melihat anak kecil , yakinilah ia lebih baik daripada dirimu alasannya ialah dosanya tidak sebanyak dosamu.

Jika melihat orang bau tanah , yakinilah ia lebih baik daripada dirimu alasannya ialah amal ibadahnya mungkin lebih banyak daripada dirimu.



Jika melihat orang alim , yakinilah ia lebih baik daripada dirimu alasannya ialah ia lebih banyak ilmunya dibanding dirimu.

Jika melihat orang bodoh, yakinilah ia lebih baik daripada dirimu alasannya ialah mungkin saja maksiat yang dilakukan lantaran ketidaktahuannya.

Jika melihat orang kafir , siapa tahu di kemudian hari ia menerima hidayah dan siapa pula yang menjamin imanmu selalu bersemayam di hati hingga ajal menjemputmu?


Wallahu A’lam


Sumber : Kitab Bidayatul Hidayah

Hakikat Cobaan Dalam Hidup

Kaya, miskin, tampan, manis dan buruk yaitu serpihan dari cobaan. Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Anbiya’ ayat 35: ‘Setiap yang bernyawa akan mencicipi mati. Kami akan menguji kau dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kau akan dikembalikan hanya kepada Kami’. Maka, bersabarlah dengan cobaan-cobaan itu. Sebab, Allah menjamin pahala besar bagi orang-orang yang sabar. Sebagaimana disebutkan dalam surah Az-Zumar ayat 10: ‘Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas’. 

Allah akan menguji kalian, wahai manusia, dengan kemudaratan duniawi menyerupai kemiskinan, sakit dan seluruh kesusahan; dan dengan banyak sekali nikmat dunia, menyerupai sehat, senang, besar hati dan bisa mencapai apa yang kalian inginkan, semoga Allah melihat apakah kalian bersabar dalam menghadapi cobaan itu dan mensyukuri nikmat ataukah tidak, sehingga pahala kalian akan bertambah di sisi Allah apabila kalian sanggup melaksanakan hal itu.

Bersabar yaitu lebih gampang dibanding bersyukur, lantaran donasi nikmat merupakan cobaan yang paling berat. Oleh alasannya yaitu itu, Sayyidina Umar ra. berkata, “Kami telah dicoba dengan kesusahan kemudian kami bersabar, dan kami telah dicoba dengan kesenangan kemudian kami tidak sanggup bersyukur.” Sayyidina Ali Karramallahu wajhah juga berkata, “Barang siapa telah dilapangkan baginya dunianya, kemudian tidak menyadari bahwa beliau diperdaya, maka bekerjsama akalnya telah diperdaya.”




Kesimpulan, bekerjsama Allah memperlakukan kalian menyerupai orang yang sedang menguji kalian, dan mencoba kalian sebagaimana emas diuji dengan api apabila hendak dibersihkan dari kotoran yang mencampurinya, semoga Allah mengetahui apakah kalian bersabar dalam menghadapi banyak sekali kesusahan dan mensyukuri nikmat ataukah tidak?.


Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi

Sya’Ir Nabi Wacana Kematian

Sya’ir-sya’ir yang disenandungkan oleh Rasulullah saw. ketika meladeni ancaman-ancaman orang-orang kafir Quraisy :

تَمَنَّى رِجَالٌ أَنْ اَمُوْتَ وَإِنْ أَمُتَ  #  فَتِلْكَ سَبِيْلٌ لَسْتُ فِيْهَا بِأَوْحَدِ

“Orang-orang menginginkan saya mati. Jika saya mati, maka itu yaitu jalan, bukan saya sendiri yang menempuhnya.”



فَقُلْ لِلَّذِيْ يَبْغِيْ خِلَافَ الَّذِيْ مَضَى  #  تَزَوَّدْ لِأُخْرَى مِثْلَهَا فَكَأَنْ قَدِ

“Katakanlah kepada orang yang hendak menyalahi ketetapan orang terdahulu, ‘Berbekallah dengan hal serupa untuk akhirat, alasannya yaitu itu pasti’.”


Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi

Upaya Makar Pada Zaman Nabi

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Thabrani, Abu Syaikh dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Pernah Rasulullah saw. duduk di bawah naungan sebatang pohon, ia bersabda, “Akan tiba kepada kalian orang yang menatap kalian dengan kedua mata setan. Jika dia datang, maka janganlah kalian berbicara.” Tiba-tiba tiba seorang lelaki berwarna biru, kemudian ia memanggilnya seraya bertanya, “Atas dasar apa kau dan teman-temanmu menghinaku?” Maka pergilah pria itu, kemudian kembali lagi dengan membawa teman-temannya. Mereka bersumpah dengan menyebut nama Allah, bahwa mereka tidak menyampaikan kata-kata penghinaan. Beliau memaafkan mereka. Maka Allah menurunkan ayat; 

“Mereka (orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak menyampaikan (sesuatu yang me-nyakiti Muhammad). Sungguh, mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak sanggup mencapai-nya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), sekiranya Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka bila mereka bertobat, itu yaitu lebih baik bagi mereka, dan bila mereka berpaling, pasti Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka tidak memiliki pelindung dan tidak (pula) penolong di bumi.” (QS. At-Taubah : 74)

Adapun maksud mereka yang tidak tercapai ialah membunuh Rasulullah saw. di jalan sempit mendaki gunung, sepulang ia dari Tabuk. Ketika Rasulullah saw. kembali dari Tabuk ke Madinah dengan membawa kafilahnya, tiba-tiba di sebagian perjalanan beberapa orang munafik menciptakan makar terhadap Rasulullah saw. Tatkala ia hingga kepada mereka, ia diberitahu perihal rencana mereka. Maka ia bersabda, “Barangsiapa di antara kalian ingin mengambil jalan melalui perut lembah, maka bersama-sama itu lebih luas bagi kalian.” Rasulullah saw. mengambil jalan sempit menuju bukit, sedang orang-orang mengambil perjalanan melalui perut lembah, kecuali beberapa orang yang hendak berbuat makar terhadap Rasulullah saw. Ketika mendengar pernyataan ia itu, mereka segera berkemas-kemas dan mengenakan tutup muka, kemudian menunggu kesempatan untuk melaksanakan rencana mereka. Beliau menyuruh Hudzaifah bin Yaman dan Ammar bin Yasar untuk berjalan bersamanya. Beliau menyuruh Ammar untuk menarik tali kekang unta, dan menyuruh Hudzaifah untuk menggiringnya. Ketika mereka berjalan, tiba-tiba terdengar pukulan tinju kaum di belakang mereka yang telah mengurung mereka. Rasulullah saw. murka kemudian menyuruh Hudzaifah untuk menghalau mereka. Hudzaifah melihat kemarahan beliau, kemudian kembali dengan membawa tongkat yang bengkok ujungnya. Dengan serta-merta Hudzaifah menghadapi barisan depan kendaraan mereka, kemudian memukulnya dengan tongkat dan sempat melihat kaum yang hendak melaksanakan makar, sedangkan mereka mengenakan tutup muka. Namun sejauh ini dia hanya menyadari bahwa yang demikian itu yaitu perbuatan orang yang sedang mengadakan perjalanan. Kemudian Allah Ta‘ala menciptakan mereka takut dikala melihat Huzaifah, dan menerka bahwa makar mereka telah terbongkar olehnya. Maka mereka bergegas-gegas membaur dengan orang banyak. Lantas Hudzaifah berbalik maju ke depan hingga bertemu dengan Rasulullah saw. Setelah bertemu, ia bertitah, “Ya Hudzaifah, pukullah kendaraan dan berjalanlah engkau ya Ammar, di belakangnya.” Maka mereka berjalan cepat-cepat hingga berada sejajar dengan puncaknya. Mereka keluar dari jalan sempit sambil menunggu orang-orang. Nabi saw. bertanya kepada Hudzaifah, “Apakah kau mengenal seseorang di antara para pengendara itu?” Hudzaifah menjawab, “Saya mengenal kendaraan si Fulan dan si Fulan. Malam itu gelap sekali, saya hingga kepada mereka sedang mereka mengenakan tutup muka.” Rasulullah saw. bertanya, “Tahukah kalian apa yang hendak diperbuat oleh para pengendara itu?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka menciptakan makar untuk sanggup berjalan denganku, sehingga apabila saya hingga di jalan sempit, mereka akan melempari aku.” Mereka bertanya, “Kenapa Anda tidak menyuruh kami, ya Rasulullah, biar kami memenggal batang leher mereka?” Beliau menjawab, “Saya tidak suka bila orang-orang membicarakan saya, dan menyampaikan bahwa Muhammad bertindak dengan tangan besi terhadap para sahabatnya.” Beliau menyebutkan nama orang-orang yang berbuat makar itu kepada Hudzaifah dan Ammar, kemudian sabdanya, “Sembunyikanlah nama mereka oleh kalian berdua.”



Riwayat yang sahih mengenai jumlah mereka ialah yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dalam umatku ada dua belas orang munafik. Mereka tidak akan masuk surga, tidak pula akan mendapat harumnya, menyerupai unta jantan yang bersikeras untuk masuk ke dalam lubang jarum. Delapan di antara mereka dicukupkan dengan dubailah (bisul besar yang tampak di dalam lubang dan banyak membunuh orangnya), seperti ia pelita dari api neraka yang tampak pada tali pengikat tangan mereka, hingga muncul dari dada mereka.”


Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi

Benarkah Perang Di Jazirah Arab Sudah Diprediksi Nabi?

Pertumpahan darah (peperangan) antar sesama muslimin yang terjadi akhir-akhir ini di Jazirah Arab tampaknya sulit diselesaikan, baik di Suriah, Irak, Yaman dan lain-lain. Mereka diadu domba oleh setan-setan. Ternyata, ratusan tahun silam Rasulullah saw. pernah menyinggung dalam salah satu sabdanya :

Dari Jabir, ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat (muslimin) di Jazirah Arab. Tetapi (tidak berputus asa) untuk mengadu domba antara mereka”. (Al-Hadits)



Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi

Ketika Nabi Meng-Islamkan Kepala Suku

Ahmad meriwayatkan dari Adi bin Hatim ra., saya masuk menghadap Rasulullah saw., kemudian dia bersabda, “Hai Adi, masuklah ke dalam Islam, pasti engkau selamat.” Saya berkata, “Sesungguhnya saya seorang yang memeluk suatu agama.” Beliau bersabda, “Saya lebih tahu daripada kau wacana agamamu.” Saya bertanya, “Anda lebih tahu wacana agama saya daripada saya sendiri?” Beliau menjawab, “Ya, bukankah kau termasuk pemeluk agama Rakusiyah (sebuah agama antara Sabiah dengan Nasrani), dan kau memakan mirba‘ kaummu (mirba‘ adalah harta rampasan perang yang diambil oleh kepala suku, ini termasuk susila jahiliyah)?” Saya menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hal ini tidak halal di dalam agamamu.” Adi tidak berani menjawabnya, alasannya tawaduk kepada beliau. Lalu dia bersabda, “Saya tahu apa yang menghalang-halangi kau untuk masuk Islam. Bukankah kau berkata, bahwa dia (Muhammad) diikuti oleh orang-orang lemah dan tidak memiliki kekuatan, sedang mereka telah dibuang oleh bangsa Arab? Tahukah kau al-hiyarah (kaum yang banyak harta dan keluarga)?” Saya menjawab, “Saya belum pernah melihatnya, tetapi pernah mendengarnya.” Beliau bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh Allah akan menyempurnakan agama ini hingga perempuan yang berada dalam sekedup keluar dari al-hiyarah kemudian tawaf di Baitullah tanpa ditemani oleh seorang pun, dan sungguh Dia akan membuka harta simpanan Kisra bin Hurmuz.” Saya bertanya, “Kisra bin Hurmuz?” Jawab beliau, “Ya, Kisra bin Hurmuz. Dan sungguh harta akan dikeluarkan sehingga tidak ada seorang pun yang menerimanya.”

Adi berkata, “Wanita dalam sekedup ini keluar dari al-hiyarah, kemudian tawaf di Baitullah tanpa ditemani oleh seorang pun! Padahal saya termasuk orang yang membuka harta simpanan Kisra bin Hurmuz itu. Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, Anda pasti orang yang ketiga. Sebab, Rasulullah saw. mengatakannya.”



Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Adi bin Hatim ra., bahwa dikala hingga dakwah Rasulullah saw. kepadanya, dia melarikan diri ke Syam yang pada masa jahiliyah telah ditolongnya. Kemudian saudara perempuan dan sejumlah kaumnya tertawan. Rasulullah saw. memberi bekal kepada perempuan itu. Setelah kembali kepada saudaranya (Adi), perempuan itu membujuknya biar masuk Islam dan tiba menghadap Rasulullah saw. Maka Adi tiba ke Madinah, sedang dia seorang kepala kaum Thai (dan bapaknya, Hatim Ath-Thai populer dengan kemurahannya). Orang-orang membicarakan kedatangannya. Kemudian Adi menghadap Rasulullah saw. yang dikala itu dia sedang membaca ayat “Mereka menyebabkan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai yang kuasa selain Allah”. Adi berkata, “Mereka itu tidak menyembah mereka.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya mengharamkan yang halal atas mereka dan menghalalkan yang haram, kemudian mereka mengikutinya, itulah ibadah terhadap mereka.”

Rasulullah saw. bertanya, “Hai Adi, apa yang kau katakan? Apakah membahayakanmu jikalau dikatakan bahwa Allah itu Mahabesar? Apakah kau mengetahui ada sesuatu yang lebih besar daripada Allah? Apa yang membahayakanmu? Apakah akan membahayakanmu jikalau dikatakan bahwa tidak ada yang kuasa selain Allah? Apakah kau mengetahui ada yang kuasa selain Allah?” Kemudian Rasulullah saw. menyerunya biar masuk Islam. Maka ia pun masuk Islam dan bersaksi dengan kesaksian yang benar. Adi berkata, “Sungguh saya melihat wajah dia berseri-seri.” Kemudian dia bersabda, “Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu dimurkai, dan orang-orang Kristen itu sesat.”


Wallahu A’lam


Sumber : Tafsir Al-Maraghi