Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Empat Jebakan Iblis Dalam Menjerumuskan Manusia

Al-Qur’an mengisahkan bahwa dikala dikeluarkan dari surga, Iblis meminta kepada Allah biar sanggup menarik hati anak cucu Adam menjadi temannya di neraka kelak. Iblis berkata, “Aku sungguh-sungguh akan mendatangi (menggoda) mereka dari arah depan dan arah belakang mereka, arah kiri dan arah kanan mereka. Dan sungguh mereka tidak akan menjadi hamba-Mu yang bersyukur”(QS 7:17).

Menurut Al-Kattani, ayat ini berbicara mengenai tahapan taktik Iblis dalam menyesatkan manusia. Iblis menjebak insan secara bertahap. Dimulai dari proposal yang paling berangasan dan sulit sampai ke tahapan yang paling halus dan mudah. Namun, justru di jebakan yang paling halus dan gampang inilah insan banyak yang terperangkap.

Menurut al-Kattani “arah depan” ialah jebakan menyekutukan Allah dan melaksanakan dosa-dosa besar. Ini ialah proposal yang paling sulit untuk dituruti manusia. Pada tahapan ini, Iblis menunjukkan kekufuran, mengajak orang untuk menolak agama, keberadaan Tuhan, risalah para Rasul dan kebenaran kitab suci.

Ketika gagal, godaan dari “arah belakang” pun disodorkan Iblis, yaitu jebakan melaksanakan dosa-dosa kecil, lebih gampang untuk diikuti dari proposal sebelumnya. Iblis merayu insan bahwa berbuat dosa itu manusiawi dan lagi pula, kata dia, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Karena itu, masih ada kompensasi bertobat. Untuk orang-orang yang rawan godaan Iblis ini.

Nabi SAW mewanti-wanti: “Jangan meremehkan dosa kecil, alasannya dosa-dosa kecil akan menjadi besar bila orang menghimpunnya.” 

Dalam suatu riwayat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Dosa paling besar ialah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya.”

Jika gagal merayu insan dari arah depan dan arah belakang, Iblis mendesain godaan ketiga, jebakan dari “arah kanan”. Arah kanan, masih berdasarkan al-Kattani, ialah proposal untuk melaksanakan hal-hal yang mubah namun sanggup melalaikan yang wajib. Olahraga pagi itu mubah namun bila sanggup melalaikan kita dari masuk kantor sempurna waktu, kita terjebak pada godaan ketiga Iblis ini.



Jebakan yang terakhir tiba dari ”arah kiri”. Ini proposal yang paling halus. Iblis menunjukkan kita dengan ibadah-ibadah yang utama, tetapi melalaikan kita dari hal-hal yang lebih utama. Berzikir itu utama. Bila kita sibuk berzikir, membersihkan diri atau tafakur di sudut rumah kita, kemudian kita mengabaikan masalah-masalah sosial, maka kita melupakan hal yang lebih utama. Ketika kita meributkan perbedaan kecil dalam ibadah dan melupakan kualitas ekonomi kita, kita telah terjebak pada jebakan yang tiba dari arah kiri ini.

Diriwayatkan, dikala Iblis menyampaikan ucapannya tersebut, para malaikat menjadi kasihan kepada manusia, kemudian mereka berkata: “Ya Allah, bagaimana mungkin insan sanggup terhindar dari jebakan Iblis?”

Allah menjawab masih tersisa dua arah: atas dan bawah, “Jika insan mengangkat kedua tangannnya dalam doa dengan penuh rendah hati atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyukan, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR Thabrani)


Sumber : Situs PBNU

Popularitas Dapat Menghilangkan Amal Yang Ikhlas

Ikhlas ialah ruhnya amal ibadah. Pada maqalah (statemen) Syaikh Ibnu ‘Athaillah yang ke-11, dia mengajarkan perihal bagaimana para 'pencari Allah SWT' sanggup menanam dan memperkokoh tulus dengan cara mengubur diri dari ketenaran dan popularitas.

Syaikh Ibnu ‘Athaillah berkata:

ادْفنْ وجودَك في أرضِ الخمولِ فما نَبَتَ مما لم يُدْفَنْ لا يَتِمُّ نَتَاجُه

"Benamkan keberadaanmu di bumi yang tersembunyi, apa yang tumbuh dari suatu yang tidak terpendam (di bumi) maka buahnya tidaklah sempurna."

Popularitas (الشهرة) dan populer dengan nama baik (إنتشار الصيت) merupakan hal yang disukai dan diburu oleh kebanyakan orang. Padahal popularitas dan tenar dengan nama baik merupakan cuilan dari nafsu yang harus dilawan, diperangi, dan ditaklukkan. Ia menjadi godaan yang sangat besar bagi seorang hamba yang mulai berproses menuju ma'rifat billah. Kenapa demikian? Sebab ketenaran/popularitas merupakan kesenangan atau kebahagiaan seseorang yang sanggup menciptakan hati seorang hamba terlena dari Allah SWT.

Syaikh Ibnu ‘Athaillah memberi citra bahwa tulus itu bagaikan tunas atau biji. Agar biji atau tunas sanggup tumbuh dan berbuah dengan sempurna, maka biji itu harus ditanam atau dibenamkan ke dalam bumi. Apabila biji itu hanya diletakkan di atas tanah, maka sanggup jadi ia tidak sanggup tumbuh dan bahkan akan dimakan oleh burung. Seandainya biji yang hanya diletakkan dipermukaan tanah tersebut sanggup tumbuh, maka akarnya tentu tidaklah besar lengan berkuasa dan kokoh, ia dengan gampang akan roboh diterpa angin.



Sama halnya dengan biji, tulus itu juga harus dibenamkan ke dalam hati yang paling dalam, tidak hanya dipermukaannya saja. Ke dalaman hati untuk membenamkan keikhlasan seorang itu,  berada pada keadaan atau kondisi dimana seorang hamba jauh dari ingar bingar ketenaran dan nikmatnya popularitas.

Menaklukkan nafsu popularitas sanggup dilakukan dengan cara menjauhi lingkaran-lingkaran yang menjadi lantaran ketenaran seseorang.

Lantas bagaimana kalau seorang hamba diuji dengan ketenaran, popularitas, kedudukan dan jabatan oleh Allah SWT?

Ahli tasawuf (sufi) menyatakan bahwa seorang hamba yang diuji dengan hal tersebut hendaknya melaksanakan hal-hal yang sanggup meruntuhkannya. Hendaknya ia melaksanakan hal-hal remeh, sesuatu yang sanggup menghancurkan gengsi yang umumnya tidak disukai oleh orang yang berkedudukan tinggi atau selebritis.

Lebih gampang bagi hamba pencari Allah SWT dalam menuju pintu ma'rifat-Nya, supaya menghindari belenggu popularitas, biar tertanam besar lengan berkuasa keihklasannya.

Sayyid Abu Al-Abbas menyampaikan "Barangsiapa yang menyayangi keberadaan maka dia menjadi ‘hamba eksistensi’. Siapa yang menyayangi kesunyian maka dia menjadi ‘hamba kesunyian’. Dan barangsiapa menyayangi Allah maka dia menjadi ‘hamba Allah’. Baginya sama saja apakah eksis atau tidak (dia hanya menghamba pada Allah)”.


Sumber : Situs PBNU

Cara Gampang Melaksanakan Qiyamullail (Shalat Malam)

Qiyamul-lail merupakan media komunikasi seorang muslim dengan Rabb-nya. Ia sanggup mencicipi kelezatan dikala berdoa, beristighfar, bertasbih, memuji dan bermunajat kepada penciptanya. Dengan demikian, ia akan mendapat fasilitas dari Allah dalam semua aspek kehidupannya, baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Begitu pula dalam aspek dakwah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Ia akan akrab dengan Tuhannya, diampuni dosanya, dihormati sesama dan menjadi penghuni nirwana yang disediakan untuknya.

Orang yang istiqamah mengerjakan qiyamul-lail pasti dicintai dan akrab dengan Allah. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal, Rasulullah bersabda, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam, lantaran shalat malam ialah tradisi orang-orang shalih sebelummu, dan sanggup mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit dan pencegah dari dosa”.

Dari sini sanggup dipahami bahwa qiyamul-lail, selain sanggup medekatkan diri kepada Allah, juga sanggup mencetak keshalihan dan menyelamatkan tubuh dari penyakit dan batin dari lumuran dosa.

Dari Sahal bin Sa’ad ra., ia berkata: “Malaikat Jibril tiba kepada Nabi, kemudian berkata: ‘Wahai Muhammad, hiduplah sebebas-bebasmu, lantaran risikonya kau akan mati. Berbuatlah sekehendakmu, lantaran pasti akan mendapat balasan. Dan cintailah orang yang engkau mau, lantaran kau pasti akan berpisah. Kemuliaan orang mukmin sanggup diraih dengan melaksanakan salat malam dan harga dirinya sanggup ditemukan dengan tidak meminta tolong kepada orang lain’.”

Seseorang yang ingin mulia di sisi Allah dan di sisi insan hendaknya membiasakan qiyamul-lail. Tapi hal ini bukan pekerjaan mudah. Tidak semua orang sanggup melakukannya. Hanya beberapa orang yang mendapat taufiq dari Allah yang sanggup dengan gampang melakukannya. Mereka itu ialah orang-orang yang sanggup melaksanakan tips-tips yang mempermudah untuk melaksanakan qiyamul-lail.



Beberapa tips biar kita gampang melaksanakan qiyamul-lail, di antaranya adalah:

1.) Tidak banyak makan

Sebagian ulama berkata kepada murid-muridnya, “Wahai murid-murid! Janganlah kalian memperbanyak makan, lantaran banyak makan akan mengakibatkan banyak minum. Banyak minum akan mengakibatkan kantuk dan banyak tidur. Banyak tidur akan menimbulkan banyak kerugian”.

2.) Tidak melaksanakan pekerjaan berat di siang hari

Aktifitas padat sanggup mengakibatkan tubuh menjadi lesu dan lemah. Dengan kondisi tubuh yang lemah, kita akan tidur dengan pulas, sehingga sulit untuk bangkit dan melaksanakan qiyamul-lail.

3.) Tidur qailulah 

Tidur qailulah ialah tidur sebentar di siang hari, biasanya dilakukan sebelum matahari bergeser ke arah barat dari titik istiwa’ (setelah dhuhur). Orang yang melaksanakan tidur qailulah kondisi tubuhnya lebih siap untuk melaksanakan aktifitas ibadah di malam hari.

4.) Menjaga hati

Rasulullah bersabda, “Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuh. Apabila buruk, maka jelek pula seluruh anggota tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati. Menjaga hati biar tidak melaksanakan dosa dan kesalahan harus selalu kita upayakan. Karena perbuatan dosa menjadikan hati tidak baik, yang mengakibatkan tubuh kita enggan melaksanakan kebaikan.

Kalau kita sudah terlanjur melaksanakan dosa dan kesalahan, maka kewajiban kita ialah bertobat dan berusaha tidak melaksanakan kesalahan serupa. Sebab, satu dosa kecil saja terkadang menciptakan seseorang tidak sanggup melaksanakan suatu kebaikan selama berbulan-bulan. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Selama lima bulan, saya pernah mengalami masa-masa sulit. Saya tidak sanggup melaksanakan qiyamul-lail lantaran satu dosa yang saya lakukan.”

5. Mengetahui keutamaan qiyamul-lail

Qiyamul-lail mempunyai fadhilah yang sangat banyak, baik dari tinjauan agama maupun tinjauan medis. Dari tinjauan agama, orang yang biasa melaksanakan shalat tahajud dijanjikan kawasan dan kedudukan mulia. Orang yang biasa qiyamul-lail, esok harinya wajahnya akan tampak cerah berseri-seri. Sedangkan dari tinjauan medis, qiyamul-lail sanggup membebaskan dari segala macam penyakit.

6. Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah

Orang yang percaya bahwa saat sedang melaksanakan qiyamul-lail berarti ia sedang bermunajat kepada Allah, dan bahwa Allah selalu hadir dan mengetahui segala gerak dan aktifitasnya, maka ia akan suka berlama-lama melaksanakan qiyamul-lail.

Abu Sulaiman berkata, “Waktu malam bagi orang yang jago ibadah terasa lebih enak daripada permainan bagi orang yang suka bermain-main. Seandainya tidak ada malam, pasti saya tidak suka berlama-lama hidup di dunia”.

Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di malam hari ada waktu yang mana seorang muslim bila sanggup menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya), dan itu berlaku setiap malam.”

Dengan melaksanakan tips-tips di atas, dibutuhkan kita sanggup gampang melaksanakan qiyamul-lail dan selanjutnya sanggup istiqamah menjalankannya. Sehingga kita sanggup menjadi hamba yang shalih dan mendapat kawasan yang mulia di sisi Allah dan makhluk-Nya. Amin.


Wallahu A’lam

Menghargai Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan

Oleh: HABIB ALI ZAINAL ABIDIN AL-JUFRI

Ada yang bertanya, mengapa kemanusiaan didahulukan daripada keberagamaan? Baiklah saya jawab. Pertama, banyak yang resah antara agama (religion, diin) dan keberagamaan (religiosity, tadayyun). Iya, memang betul bahwa agama didahulukan sebelum kemanusiaan, bahkan sebelum apapun, alasannya yaitu ia bersangkutan dengan Allah Ta’ala.

Namun yang kita bicarakan di sini yaitu keberagamaan, bukan agama. Keberagamaan ialah bagaimana kita melakukan anutan agama. Dan dalam hal ini, kemanusiaanlah yang didahulukan daripada keberagamaan. Suatu hari, tiba seorang Arab dusun kepada Rasulullah saw. Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah, “Siapa engkau?” Rasulullah menjawab, “Aku utusan Allah.” Ditanya lagi, “Siapa yang mengutusmu?” Rasulullah menjawab, “Allah”. “Dengan apa Dia mengutusmu?” tanya orang itu lagi. Rasulullah menjawab, “Mengeratkan tali persaudaraan, melindungi kehidupan, mengamankan jalan,” lalu Rasulullah gres menyebutkan kasus tauhid, “Menghancurkan berhala sehingga hanya Allah-lah yang disembah.”

Lihatlah, bagaimana hadits Rasulullah tersebut. Meskipun tauhid yaitu pondasi risalah kerasulan, namun dia menyebutkan sifat-sifat kemanusiaan terlebih dahulu. Sebab, bila rasa kemanusiaan seseorang itu baik, maka rasa keberagamaan akan memastikan keterhubungannya dengan sekelilingnya berlandaskan pada hubungannya dengan Allah. Sebaliknya, bila rasa kemanusiaannya rusak, maka setiap langkahnya dalam keberagamaan akan bertentangan dengan tujuan agama itu sendiri.

Kelompok Khawarij yang membunuh Sayyiduna Ali bin Abi Thalib yaitu orang yang menghabiskan malam sebelum pembunuhan untuk beribadah. Ia bangun shalat sepanjang malam sampai kakinya bengkak. Orang menyerupai dia mempraktekkan ritual keberagamaan, namun tidak mempunyai pemahaman hakiki ihwal wadah bagi keberagamaan itu, yakni kemanusiaan.

Rasulullah saw. juga pernah bersabda, “Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambung tali peraudaraan, dan shalatlah di kala malam ketika orang-orang terlelap, dan engkau akan masuk nirwana dengan selamat.”

Coba lihat, Rasulullah menyebutkan shalat malam sesudah menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Beliau menyebutkan perintah menebarkan salam, memberi makanan, menyambung persaudaraan, sebelum menyebutkan ritual peribadatan pribadi. Di hadits yang pertama tadi, kita memahami bahwa Rasulullah menempatkan sifat-sifat kemanusiaan sebagai wadah bagi tauhid atau keyakinan. Di hadits kedua ini, dia mengakibatkan sifat-sifat kemanusiaan sebagai wadah bagi peribadatan ritual yang menjadi sarana pendekatan diri kepada Allah.

Maka tak diragukan bahwa siapapun yang melihat agresi kriminalitas pada masa-masa ini atas nama agama, akan menyadari bahwa dilema yang kita hadapi yaitu ihwal kemanusiaan. Kita harus berkaca kembali, mengoreksi diri, terutama atas rasa kemanusiaan. Inilah mengapa saya memulai buku yang saya tulis ini (Al-Insaniyyah Qabla at-Tadayyun, Dar al-Faqih Kairo: 2015) dengan kritik terhadap diri saya sendiri. Kemudian kritik terhadap makna keberagamaan ketika ini. Lalu ihwal masalah-masalah yang dihadapi anak muda, lalu beberapa konsep penting yang harus kita pahami.



TAMBAHAN DARI SYAIKH USAMAH AL-AZHARI:

Kemanusiaan sebelum keberagamaan yaitu hal yang benar, tak diragukan lagi. Saya memahami satu pelajaran ihwal kemanusiaan sangat gamblang di dalam Al-Qur’an yang kita semua sering membacanya di dalam shalat. Yakni surah Al-Ma’un, ketika Allah bertanya,

“Tahukah kau (orang) yang mendustakan agama?”

Kemudian Dia menjelaskan bagaimana pendustaan terhadap agama dilakukan, yaitu;

“Yaitu orang yang menghardik anak yatim.”

Misalnya, menghardik dengan kekerasan atau semisal, padahal rasa kemanusiaan dimanapun niscaya bersimpati terhadap anak yatim. Lalu dilanjutkan;

“… dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Di ayat ini Allah menyamakan kerasnya hati seseorang dan penolakannya terhadap kebutuhan insan pada masakan atau minuman dengan pendustaan terhadap agama. Kemudian Allah menyampaikan bahwa ketidakmanusiawian ini hanya akan mengantarkan seseorang pada ritual ibadah yang hampa.

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”

Apa yang membuatnya lupa, lalai, dan tidak dapat khusyuk di dalam shalatnya? Apa yang membuatnya tidak dapat menghayati keagungan Tuhan Penguasa semesta raya dalam ritual ibadahnya? Yakni akhir hubungannya yang rusak dengan sesama manusia. Ketika ia berhati batu, maka hal ini akan tercermin dalam peribadatannya yang hampa. Ibadah yang ia amalkan tidak mengantarkannya pada tujuan. Ia shalat namun tak menebar rahmat bagi sesamanya.

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”

Dalam ayat terakhir ini, berdasarkan Sayyiduna Abdullah bin Abbas, makna ‘enggan menolong dengan barang berguna’ ialah termasuk pada benda-benda kecil menyerupai mangkuk atau lainnya. Jadi, bila seorang tuan rumah menolak memenuhi kebutuhan tetangganya yang membutuhkan, ia harus tahu bahwa Allah menganggap perilakunya itu sebagai pendustaan terhadap agama.

Maka kesimpulannya, kita dapat memahami ada tiga hal di sini. Pertama, agama. Kedua, kekerabatan kemanusiaan. Lalu ketiga, praktek keberagamaan.

PENUTUP DARI HABIB ALI AL-JUFRI

Bahkan Allah Ta’ala menghubungkan sifat riya’ terhadap perilaku-perilaku ini. Bahwa sifat riya akan muncul dalam ritual ibadah orang yang tidak menghiraukan rasa kemanusiaan. Ritual ibadahnya hanya untuk dipertontonkan, dan cahaya tidak merasuk ke dalam hatinya. Kemudian sikap semacam ini; mengenyampingkan rasa kemanusiaan, ritual ibadah yang dipamerkan, menjelma sikap zalim dan pengrusakan sebagaimana kita lihat hari ini. 

*Diterjemahkan dan ditranskrip oleh Santrijagad dari wawancara Habib Ali Al-Jufri dan Syaikh Usamah al-Azhari di CBC TV Mesir

Sumber : santrijagad.org

Shalawat Dapat Menghilangkan Krisis Pangan

Salah satu lantaran sedikitnya berkah di zaman ini ialah banyaknya umat Islam yang tidak lagi memperbanyak shalawat kepada Rasulullah. Ya, shalawat kepada Nabi Muhammad saw. ialah lantaran banyaknya keberkahan dan kebaikan.



Ada sebuah cerita konkret di salah satu desa di Maroko yang ketika itu ditimpa paceklik dan krisis. Di ketika itu, ada seorang perempuan menghampiri sumur yang kering. Setelah ia berdoa kepada Allah, tiba-tiba sumur itu meluapkan air yang dapat menyelamatkan desa dari kekeringan (paceklik), sampai menciptakan Syaikh al-Jazuli heran dan menghampiri perempuan tersebut dan bertanya:

"Apa yang anda baca dalam doa?" tanya al-Jazuli

"Saya hanya bershalawat kepada Nabi Muhammad saw., sampai Allah berkenan untuk menghilangkan kekeringan di desa kami" jawab si perempuan dengan yakin

Setelah bencana ini, Syaikh al-Jazuli mengumpulkan aneka macam metode dan bacaan shalawat dalam maha karya beliau, kitab “Dalail al-Khairat” yang begitu fenomenal dan populer ke segala penjuru, mengajarkan orang-orang cara bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. dengan aneka macam bentuknya, sehingga ketika mereka gemar bershalawat, Allah menyebabkan hati mereka jelas bercahaya, meringankan beban kehidupan dunia mereka, memudahkan segala urusan mereka, sehingga mereka lebih mementingkan darul abadi dan kebersamaan dengan Rasulullah saw. di surga.


Wallahu A’lam


Sumber : Gus Ashif

Siapakah Kaum Khawarij Itu?

Diriwayatkan dari Ali ra. bahwa yang dimaksud oleh ayat ini ialah “Ahali Harwara`”. Mereka ialah kaum Khawarij yang diperangi Ali bin Abu Thalib r.a. Khawarij ialah kaum yang berasal dari penduduk Kufah yang zuhud. Mereka keluar dari kepatuhan kepada Ali r.a. tatkala Ali menyetujui penetapan keputusan atas sengketa antara dirinya dan Mu’awiyah. Kaum Kharij berkata, “Penetapan keputusan yang demikian merupakan kekufuran, alasannya ialah keputusan aturan itu hanya milik Allah.” Mereka berjumlah 12.000 orang. Mereka bersatu dan memancangkan bendera separatis. Mereka menumpahkan dara dan menyamun. Ali memerangi mereka dan meminta mereka kembali bersatu. Namun, mereka menolak dan menentukan berperang. Maka Ali memerangi mereka di Nahrawan. Dia membunuh dan menumpas mereka sehingga tiada yang selamat kecuali segelintir orang. Mereka itulah orang-orang yang diprediksi Rasulullah saw. melalui sabdanya:

Akan lahir suatu kaum dari umatku yang melecehkan shalatmu dibandingkan shalat mereka dan shaummu dibanding shaum mereka. Keimanan mereka tidak melampaui tenggorokannya (HR. Bukhari dan Muslim)



Wallahu A’lam

Mengapa Kita Menyayangi Dunia Dan Melupakan Akhirat?

Utbah berkata: Utbah al-Ghulam menginap di rumahku, kemudian ia menangis sampai pingsan. Aku bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Dia menjawab, “Aku teringat akan insiden menghadap Allah, yang tetapkan tali diantara seseorang dengan yang dicintainya.”

Dikisahkan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah ketujuh dari keturunan Marwan, berkata kepada Abu Hazm, “Mengapa kami  mencintai dunia dan membenci akhirat?” 

Abu Hazm menjawab, “Karena kalian memakmurkan dunia dan meruntuhkan akhirat, sehingga kalian enggan berpindah dari yang ramai ke yang sunyi.” 

Sulaiman berkata, “Engkau benar, hai Abu Hazm. Sungguh, saya  ingin mengetahui keadaanku di sisi Allah kelak.” 

Abu Hazm berkata, “Jika kau ingin mengetahui hal itu, bacalah Kitab Allah.” 

Dia bertanya, “Pada ayat manakah itu?” 

Abu Hazm menjawab, “Pada firman Allah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang saleh benar-benar berada nirwana yang penuh kenikmatan, sedangkan orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka jahim’.” 



“Bagaimana insiden menghadap Allah itu?” tanya Sulaiman

Abu Hazm menjawab, “Orang baik bagaikan orang yang telah usang bepergian, kemudian ia kembali kepada keluarganya dengan penuh suka cita, sedangkan orang jahat ibarat budak belian yang melarikan diri, kemudian kembali kepada majikannya dalam kedukaan.” Maka Sulaiman menangis histeris.


Wallahu A’lam

Empat Jebakan Iblis Dalam Menjerumuskan Manusia

Al-Qur’an mengisahkan bahwa dikala dikeluarkan dari surga, Iblis meminta kepada Allah biar sanggup menarik hati anak cucu Adam menjadi temannya di neraka kelak. Iblis berkata, “Aku sungguh-sungguh akan mendatangi (menggoda) mereka dari arah depan dan arah belakang mereka, arah kiri dan arah kanan mereka. Dan sungguh mereka tidak akan menjadi hamba-Mu yang bersyukur”(QS 7:17).

Menurut Al-Kattani, ayat ini berbicara mengenai tahapan taktik Iblis dalam menyesatkan manusia. Iblis menjebak insan secara bertahap. Dimulai dari proposal yang paling berangasan dan sulit sampai ke tahapan yang paling halus dan mudah. Namun, justru di jebakan yang paling halus dan gampang inilah insan banyak yang terperangkap.

Menurut al-Kattani “arah depan” ialah jebakan menyekutukan Allah dan melaksanakan dosa-dosa besar. Ini ialah proposal yang paling sulit untuk dituruti manusia. Pada tahapan ini, Iblis menunjukkan kekufuran, mengajak orang untuk menolak agama, keberadaan Tuhan, risalah para Rasul dan kebenaran kitab suci.

Ketika gagal, godaan dari “arah belakang” pun disodorkan Iblis, yaitu jebakan melaksanakan dosa-dosa kecil, lebih gampang untuk diikuti dari proposal sebelumnya. Iblis merayu insan bahwa berbuat dosa itu manusiawi dan lagi pula, kata dia, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Karena itu, masih ada kompensasi bertobat. Untuk orang-orang yang rawan godaan Iblis ini.

Nabi SAW mewanti-wanti: “Jangan meremehkan dosa kecil, alasannya dosa-dosa kecil akan menjadi besar bila orang menghimpunnya.” 

Dalam suatu riwayat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Dosa paling besar ialah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya.”

Jika gagal merayu insan dari arah depan dan arah belakang, Iblis mendesain godaan ketiga, jebakan dari “arah kanan”. Arah kanan, masih berdasarkan al-Kattani, ialah proposal untuk melaksanakan hal-hal yang mubah namun sanggup melalaikan yang wajib. Olahraga pagi itu mubah namun bila sanggup melalaikan kita dari masuk kantor sempurna waktu, kita terjebak pada godaan ketiga Iblis ini.



Jebakan yang terakhir tiba dari ”arah kiri”. Ini proposal yang paling halus. Iblis menunjukkan kita dengan ibadah-ibadah yang utama, tetapi melalaikan kita dari hal-hal yang lebih utama. Berzikir itu utama. Bila kita sibuk berzikir, membersihkan diri atau tafakur di sudut rumah kita, kemudian kita mengabaikan masalah-masalah sosial, maka kita melupakan hal yang lebih utama. Ketika kita meributkan perbedaan kecil dalam ibadah dan melupakan kualitas ekonomi kita, kita telah terjebak pada jebakan yang tiba dari arah kiri ini.

Diriwayatkan, dikala Iblis menyampaikan ucapannya tersebut, para malaikat menjadi kasihan kepada manusia, kemudian mereka berkata: “Ya Allah, bagaimana mungkin insan sanggup terhindar dari jebakan Iblis?”

Allah menjawab masih tersisa dua arah: atas dan bawah, “Jika insan mengangkat kedua tangannnya dalam doa dengan penuh rendah hati atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyukan, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR Thabrani)


Sumber : Situs PBNU

Popularitas Dapat Menghilangkan Amal Yang Ikhlas

Ikhlas ialah ruhnya amal ibadah. Pada maqalah (statemen) Syaikh Ibnu ‘Athaillah yang ke-11, dia mengajarkan perihal bagaimana para 'pencari Allah SWT' sanggup menanam dan memperkokoh tulus dengan cara mengubur diri dari ketenaran dan popularitas.

Syaikh Ibnu ‘Athaillah berkata:

ادْفنْ وجودَك في أرضِ الخمولِ فما نَبَتَ مما لم يُدْفَنْ لا يَتِمُّ نَتَاجُه

"Benamkan keberadaanmu di bumi yang tersembunyi, apa yang tumbuh dari suatu yang tidak terpendam (di bumi) maka buahnya tidaklah sempurna."

Popularitas (الشهرة) dan populer dengan nama baik (إنتشار الصيت) merupakan hal yang disukai dan diburu oleh kebanyakan orang. Padahal popularitas dan tenar dengan nama baik merupakan cuilan dari nafsu yang harus dilawan, diperangi, dan ditaklukkan. Ia menjadi godaan yang sangat besar bagi seorang hamba yang mulai berproses menuju ma'rifat billah. Kenapa demikian? Sebab ketenaran/popularitas merupakan kesenangan atau kebahagiaan seseorang yang sanggup menciptakan hati seorang hamba terlena dari Allah SWT.

Syaikh Ibnu ‘Athaillah memberi citra bahwa tulus itu bagaikan tunas atau biji. Agar biji atau tunas sanggup tumbuh dan berbuah dengan sempurna, maka biji itu harus ditanam atau dibenamkan ke dalam bumi. Apabila biji itu hanya diletakkan di atas tanah, maka sanggup jadi ia tidak sanggup tumbuh dan bahkan akan dimakan oleh burung. Seandainya biji yang hanya diletakkan dipermukaan tanah tersebut sanggup tumbuh, maka akarnya tentu tidaklah besar lengan berkuasa dan kokoh, ia dengan gampang akan roboh diterpa angin.



Sama halnya dengan biji, tulus itu juga harus dibenamkan ke dalam hati yang paling dalam, tidak hanya dipermukaannya saja. Ke dalaman hati untuk membenamkan keikhlasan seorang itu,  berada pada keadaan atau kondisi dimana seorang hamba jauh dari ingar bingar ketenaran dan nikmatnya popularitas.

Menaklukkan nafsu popularitas sanggup dilakukan dengan cara menjauhi lingkaran-lingkaran yang menjadi lantaran ketenaran seseorang.

Lantas bagaimana kalau seorang hamba diuji dengan ketenaran, popularitas, kedudukan dan jabatan oleh Allah SWT?

Ahli tasawuf (sufi) menyatakan bahwa seorang hamba yang diuji dengan hal tersebut hendaknya melaksanakan hal-hal yang sanggup meruntuhkannya. Hendaknya ia melaksanakan hal-hal remeh, sesuatu yang sanggup menghancurkan gengsi yang umumnya tidak disukai oleh orang yang berkedudukan tinggi atau selebritis.

Lebih gampang bagi hamba pencari Allah SWT dalam menuju pintu ma'rifat-Nya, supaya menghindari belenggu popularitas, biar tertanam besar lengan berkuasa keihklasannya.

Sayyid Abu Al-Abbas menyampaikan "Barangsiapa yang menyayangi keberadaan maka dia menjadi ‘hamba eksistensi’. Siapa yang menyayangi kesunyian maka dia menjadi ‘hamba kesunyian’. Dan barangsiapa menyayangi Allah maka dia menjadi ‘hamba Allah’. Baginya sama saja apakah eksis atau tidak (dia hanya menghamba pada Allah)”.


Sumber : Situs PBNU